22 Desember 2009

Pesona potretmu

Letih terlihat diwajah yang tua itu
Tertidur pulas dalam alunan gelap malam
Dibalik senyummu teduhkanku

Terbayang potret kala engkau masih muda
Ajarkan sebuah kata cinta dalam hidup
Kekuatan kasihmu
Nyata pulihkan jiwaku yang kadang goyah

Reff :
Pesonamu... masih jelas kurasa hingga kini
Menemani hingga ku dewasa
Derai airmata dan pengorbananmu takkan tergantikan
Terima kasih ibu...

Waktu cepat bergulir
Sisakan banyak kisah
Dia yang kau cintai tlah lama meninggalkan dirimu sendiri
Namun tetap kau berdiri tegak pada dunia

21 Desember 2009

Shopaholic

Suatu hari saya membaca iklan di salah satu koran nasional tentang "Midnight Sale". Awalnya saya nggak faham apaan sih itu?. Ternyata, belakangan ini banyak pusat-pusat perbelanjaan memberlakukan program tersebut. Midnight sale is the shopping activities carried out by one of the shopping center in the mid of night (when normally the activities of community life is finished). Tujuannya macam-macam, bisa untuk sekedar meramaikan 'malam tertentu', atau memang mall tersebut sedang mengadakan cuci gudang, atau bisa jadi para pegawai mall itu siangnya pada minum kopi sehingga malemnya nggak pada bisa tidur (heheee, ngarang).

Apapun itu, yang jelas adalah kegiatan menghabiskan duit (bagi yang berduit). Dan bagi yang enggak punya duit, bisa sekedar untuk berkunjung, cuci mata, jalan-jalan saingan sama kalong...

Berbelanja itu nggak dilarang kok, asal jangan sampai 'gila belanja' atau bahasa kerennya "Shopaholic". Dalam kamus Oxford, Shopaholic ; a person who enjoy shopping very much and spends too much time or money doing it. Atau, Aholic ; liking something very much and unable to stop doing or using it. Identitas Shopaholic itu seperti pada kecanduan belanja tanpa mampu menghentikan.

Orang yang mengalami "Aholic" terhadap "Shop", membuat dirinya tidak akan tentram kalau sehari saja tidak belanja sesuatu. Tapi, tidak setiap orang yang sedang belanja banyak bisa disebut "Shopaholic". Bisa jadi orang itu seorang ibu dengan 5 anak (seperti saya, ehheheee) dan belanja sekali sebulan atau seorang panitia acara makan-makan di kelurahan.

Anehnya, penyakit "gila" jenis ini justru kerap dikagumi orang. Masyarakat lebih memilih berdecak kagum menyaksikan seorang wanita yang sebentar-sebentar pergi ke mall atau pusat perbelanjaan dan pulangnya membawa berbagai barang dengan jenis ukuran kantong belanja dari berbagai merek. Padahal, barang-barang itu seringkali hanya menjadi sampah di rumah.

Dalam Al Qur'an QS. Al Isra' ayat 27 disebutkan "sesungguhnya orang-orang yang mubadzir itu merupakan temannya setan, sedangkan setan kepada Tuhan bersikap kafir". Ayat tersebut menegaskan bahwa seseorang yang berteman dengan setan akan jatuh pada kekafiran. Maka, "Shopaholic" masuk dalam kategori "kafir nikmat". Rezeki berlimpah yang dititipkan ALLAH semestinya di obral guna memperbanyak amal.

Semoga kita dijauhkan dari segala ke-kufuran.

Eh,,, ketemu lagi...

Saya bukanlah blogger sejati. Jadi, nge-blog buat saya merupakan usaha “sampingan”, secara I am just a simple person *nggak ada hubungannya kali*. Maksudnya, jika memungkinkan dan ada waktu, saya akan melakukan hal-hal yang harus saya lakukan tapi jika nggak ada, ya sutralah… simple ya.

Dan saking ‘sangat biasa’ nya, ketika menghadapi hal-hal yang ‘luar biasa’, saya pun nggak siap. Contohnya ; ketika dulu waktu jamannya nge-blog lagi hot-hot nya, seolah-olah saya nggak mau ketinggalan nge-blog, apa dan bagaimana blog, saya pelajari dan berusaha memahami. Seiring berjalannya waktu (dan bertambahnya usia pula ha ha), saya jadi kog agak pelupa… (asli kalo ini ngaku…). Lupa gimana caranya ngganti foto, apalagi ngganti background dan yang paling parah adalah lupa password blog saya ini!!!... Itulah tadi mengapa saya katakan, saking ‘sangat biasa’ nya saya sehingga hal-hal yang ‘luar biasa’ jadi kacau.

Ya, bagi saya, nge-blog adalah hal yang luar biasa. Kadang-kadang suka ngiler ketika baca blog teman2, search dan nemu blog bagus apalagi owner-nya adalah orang yang nggak jauh beda dengan saya (ibu dengan beberapa anak). Kok mereka bisa dan saya enggak?. Saya langsung ingat perkataan guru saya : “jangan pernah berkata TIDAK BISA”,,, Ooh hohooo kesimpulannya, ternyata "saya kurang berusaha".

Walhasil, siapapun kita, jika tidak pernah dan mau berusaha, jangan pernah berharap akan berhasil.

Dan akhirnya, kita ketemu lagi disini. Mudah-mudahan saya istiqomah dalam segala hal, termasuk dalam hal per-blog-an ini… Amien

25 Mei 2009

Hi, It's Me...

"Kita sering lebih sibuk membuat orang lain menyangka kita berbahagia, daripada benar-benar sibuk membuat diri kita berbahagia" (Mario Teguh).
Ungkapan tersebut bagi saya merupakan sebuah kamuflase kehidupan. Banyak orang yang berlomba-lomba menunjukkan identitas dirinya, baik identitas sosial, harta, pendidikan dan lain sebagainya, agar bisa dinilai bahwa "I am HAPPY with this life".
Sebagian memang ada yang merasakan benar-benar bahagia dengan apa yang mereka punya. Namun, tidak sedikit sebenarnya yang merasakan "berat" mempunyai semua itu. Ya, it's me. Who I am, hanya bisa ditunjukkan oleh setiap orang dengan caranya masing-masing. Ada yang sok sibuk, benar-benar sibuk, menyibukan diri dan diantara kesibukan-kesibukan tersebut memang sengaja "dibuat", "disengaja", "tidak disengaja" atau bisa juga karena "kewajiban".
Contoh sederhana : seorang ayah, "it's me" nya merupakan suatu kewajiban bahwa memang dia harus bekerja untuk menafkahi keluarganya yang merupakan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Adapun esensi dari "kesibukan" nya, tergantung dari niat. Apakah memang benar-benar bersungguh-sungguh karena "butuh", atau hanya sekedar "agar terlihat bahagia".
Mmm, artinya gini lho ; banyak para kepala keluarga, baik sebagai eksekutif muda yang kerja di kantoran, maupun sebagai seorang petani yang selalu bergelut dengan lumpur dan kerbau di sawah, pengayuh becak, pedagang, supir angkot... mereka selalu memposisikan diri "inilah saya, harus sungguh-sungguh bekerja". Padahal mungkin saja, si pengayuh becak dan si supir angkot lebih bahagia terhadap eksistensinya sebagai "sang pencari nafkah" daripada para eksekutif muda. Karena apa?, seorang petani atau supir angkot atau pengayuh becak, mereka tidak perlu memikirkan "hari ini mau berpenampilan bagaimana?, memakai parfum apa?, sepatu buatan mana?". Mereka benar-benar niat "how can i get rizki for my family".
Kebanyakan, posisi dan identitas diri harus ditunjukkan melalu "appearance". Seorang direktur perusahaan ; tinggal di perumahan elit, setiap hari mengendarai mobil mewah ke kantor, berpenampilan serba ber-merk, makan di restoran mahal, melakukan lobby di hotel berbintang atau di lapangan golf... Sunnatullah, siapa saja yang melihatnya, pasti akan terucap "wah, bahagianya orang itu...". Disadari atau tidak, yang terjadi di dunia ini, bahwa kebahagiaan ditunjukkan dengan penampilan. Setiap orang yang penampilannya rapi dan wangi, pasti orang itu bahagia. Kenyataannya?... Who knows???.
Adapun saya, sebagai seorang perempuan yang sangat biasa, kebahagiaan itu muncul apabila saya merasa sudah melakukan hal baik dan bermanfaat untuk orang lain. Apakah saya bahagia?, oooh... tentu jika melihat orang lain merasa bahagia dengan apa yang pernah saya lakukan terhadapnya...
So, Hi... It's Me

07 Januari 2009

Law of attraction

Setelah "beristirahat" di RSPI selama beberapa hari kemarin, pagi ini setelah shalat subuh saya tidur lagi untuk mengumpulkan energi baru.
Tetapi, tidak lama kemudian saya terjaga, kaget dan refleks untuk segera bersiap-siap, menyapa pagi yang cerah untuk memulai aktifitas hari ini.
Mengingat kondisi yang belum sepenuhnya pulih, saya pun tersadar bahwa masih harus rest beberapa hari untuk mengkondisikan keadaan saya hingga dapat beraktifitas seperti sebelum sakit.
Tetapi, saya tidak bisa. Kebiasaan yang sudah terbentuk, mengalahkan segalanya. Saya sudah sangat ingin "bangkit" dan bergabung bersama teman2 di Pesantren tercinta ini untuk mengerjakan apa saja yang bisa saya kerjakan. Sepertinya, saya akan "tertinggal" apabila tidak mengikuti perkembangan yang sedang terjadi di Pesantren.
Seperti yang sudah-sudah, tidak pernah ada kata "cukup" jika ingin berjuang untuk ummat. Apa saja bisa di kerjakan, baik yang berkaitan dengan fisik maupun pikiran. Dan biasanya orang yang "berjuang" untuk ummat akan merasa enjoy, banyak tantangan yang harus dihadapi, bukan malah dihindari.
Sebenarnya apa yang saya cari?. Seberapa besar sih kebutuhan saya? Atau, begitu menakutkankah masa depan bagi saya sehingga saya harus berlomba-lomba mencapai yang terbaik?
Bukankah sebagai manusia, kita hanya perlu makan tiga kali sehari?. Bukankah Tuhan Maha Adil dan Maha Pemberi Rizki?. Bukankah menyiapkan berbagai kebutuhan di masa depan itu mestilah seperti kita akan hidup selamanya?.
Saya menangkap kesan bahwa saya mulai terjebak pada berbagai tindakan yang "away" ketimbang "toward". Saya seperti masuk ke dalam penjara untuk terus "berlari dari" apa yang saya takutkan, dan bukan "mengejar apa" yang saya cita-citakan. Saya terjebak masuk ke dalam "sirkuit balap" yang tak "bergaris finish".
Ya, yang namanya bekerja keras itu letaknya di antara malas dan ngoyo. Tentang malas, kita sudah mengetahui bahwa Tuhan pun tidak suka pada orang malas. Tentang bekerja keras, di sinilah kita seringkali KEBABLASAN dan seolah merasa bisa "menggeser kursi Tuhan".
Sepanjang yang saya ketahui, esensi dasar dari The Law of Attraction adalah : SABAR, SYUKUR dan IKHLAS. Dan, semua itu berada dalam timeframe yang jelas-jelas bukan milik manusia.
Maka, bekerja malas, jelas bukan pilihan. Akan tetapi, bekerja terlalu keras juga bukan pilihan yang bijaksana. Dengan bekerja terlalu keras, belief system kita akan teracuni oleh pernyataan : "Kalo nggak gini caranya, ya gimana bisa dapat?". Lha...!, tidakkah itu sama saja "mengkudeta" Tuhan dengan memposisikan diri sebagai penentu hasil?.
Bekerjalah dengan keras, dan tetap memberi ruang untuk keyakinan akan Tuhan sebagai Hakim yang tertinggi. Lantas, seberapa keraskah kita harus bekerja?. Silakan ukurlah sendiri dengan parameter ini : -Sabar, Syukur, Ikhlas- di dalam kerangka waktu yang bukan milik kita.
Let It Go, Let It GOD!!!.
(24 Desember 2008)

Dan alergi itu...

Pagi yang cerah, udara Jakarta tersenyum menyapa. Sayangnya, saya hanya mampu menikmati cerahnya pagi ini dari sebuah sudut kamar 3302 RS Pondok Indah Jakarta, dengan jarum infus menempel d tangan kiri yang menghubungkan obat infus 'segede karung' imported dari Negeri Sakura.
Merupakan suatu kebetulan bahwa obat infus saya import dari Jepang, secara saya baru beberapa hari mendarat dari negara tersebut.
Tulisan ini merupakan "curhatan" sehubungan dengan kondisi saya yang kurang bagus akhir-akhir ini. Sekaligus, merupakan klarifikasi bahwa sakit saya semata2 hanyak Takdir Allah yang kebetulan di derita ketika saya sedang bertugas d negara orang (Jepang).
Sebagai manusia, ada perasaan kurang nyaman ketika melakukan hal kurang baik. Menurut saya, sakit yang saya derita ketika mengunjungi negara Jepang, sangatlah mengganggu bagi sebagian pihak, terutama pihak penyelenggara. I apologize to Pak Sano ("sahabat Jepang saya") about this condition that make everybody confuse about myself. Please forgive me.
Seminggu sebelum keberangkatan ke Jepang, saya menderita Flu (batuk dan pilek). Sebenarnya ini merupakan sakit yang sangat biasa yang sering saya derita apalagi mengingat kondisi cuaca d Jakarta pada saat itu memasuki musim pancaroba.
Karena saya mau segera sembuh, saya pun minta kepada dokter pribadi (di suatu RS Internasional d daerah Bintaro), agar memberikan obat yang bagus supaya saya sudah fit sebelum berangkat ke Jepang. Dan beliau pun memberikan saya obat flu (dengan kandungan CTM 2mg), antibiotik (Zistic) dan vit C.
Keesokan harinya, setelah mengkonsumsi obat2an tsb, ketika bangun pagi, saya merasakan mual yang luar biasa, ulu hati seperti ditusuk dan badan gemetar. Saya pun kembali ke RS utk bertemu dokter. Kesimpulan nya, lambung saya tidak kuat menerima antibiotik jenis Zistic yang d gabung dengan Vit C.
Dokter mengganti antibiotik dengan merk Bactrim (dengan kandungan Sulfa) dan obat magh merk Rantin. Tapi, walaupun obat sdh d ganti, saya belum merasa nyaman.
Sampai disini, saya belum sadar sebenarnya Allah berkuasa terhadap setiap makhlukNya. Allah menciptakan manusia agar selalu belajar dan menggali potensi diri supaya dapat mencari dan mendalami ilmu Allah yang sangat luas.
Seharusnya, saya bisa bertanya kepada dokter, apa penyebab saya tidak kuat terhadap obat ini dan itu. Dan mengapa saya harus diberi obat ini dan itu dan apa saja kandungannya, apakah akan menimbulkan reaksi yang sama dengan obat sebelumnya bla bla bla... Saya tidak peduli dengan Kuasa Tuhan.
Ketika briefing d Kedubes Jepang maupun dinner d rmh Bapak Dubes Jepang, saya hanya memandangi lezatnya Tempura dan Sushi yang dihidangkan. Saya sangat ingin menikmatinya, tapi kondisi lambung saya belum memungkinkan utk mencoba makanan lezat tersebut. I love Japanese food.
Dan ketika waktu keberangkatan, sebenarnya dalam diri saya sudah menyebar "racun" yang berbahaya. Yaitu alergi terhadap zat sulfa yang dibawa oleh obat ber merk Bactrim itu.
Ketika d pesawat menuju Narita, badan saya terasa sangat panas dan gatal. AC pesawat tidak berasa sama sekali. Apalagi saat mendarat d Narita, saya sangat2 tdk nyaman. Sekali lagi, BUKAN KARENA JEPANG nya, tapi karena racun d tubuh saya sudah mulai menyebar.
Malam hari ketika hendak makan malam, kondisi saya sudah seperti "tokek kesiangan", badan saya dipenuhi bentol-bentol yang sangat ekstrim. Dan saya pun dilarikan ke RS di kota Tokyo. Dokter setempat menyimpulkan bahwa saya keracunan obat dan mereka segera menyita obat2an saya tersebut. Saya di infus, di suntik, di ambil darah dll. Saya pasrah.... Tapi, dokter tdk bisa menyimpulkan obat apa penyebabnya, mengingat komposisi obat tdk tertera di bungkus nya.
Sehari setelah infus, kondisi saya masih tidak lebih baik. Gatal2 masih terus ada sehingga saya tidak nyaman. Dokter d Tokyo TDK MEMBERI OBAT ORAL sama sekali. Mrka hanya memberi obat oles yang hanya cukup utk 2 hari.
Selama kegiatan d Jepang, setiap malam saya tidak bisa tidur dikarenakan gatal yang menimpa saya tidak kunjung henti. Akhirnya, pada keesokan harinya saya tidak bisa maksimal untuk mengikuti kegiatan karena ngantuk. Saya pun memastikan ke semua orang bahwa ketika saya stay d Inggris dan menghadapi salju, kondisi saya tidak sampai begini. Berarti, saat di Jepang ini, ada satu hal yang tidak beres menimpa saya. Tidak mungkin karena cuaca. Dan makanan pun saya sangat hati2 sekali. Saat itu saya tidak sadar bahwa zat sulfa sudah mendominasi tubuh saya.
Beberapa hari kemudian, sendi-sendi saya tidak bisa digerakkan sehingga saya tampak seperti robot. Jalan tegak lurus. Kondisi saya semakin parah dan diperparah dengan saya tidak bisa menerima makanan apapun. Saya pun ambruk kembali, dan d infus di Nara City Hospital. Kesimpulannya, saya terlalu capai karena tiap malam tdk bisa tidur dan kegiatan sehari2 sangatlah padat.
Apabila kondisi saya lebih buruk dari di Tokyo, dokter menyarankan agar saya secepatnya kembali ke Jakarta. This, Pak Sano sahabat Jepang saya, tampak seperti kebingungan tapi tetap tenang, dan saya merasakan panik yang luar biasa. Sekali lagi, sumimasen Sano san... You are the best deh pokoknya bisa sabar gitu!!!...
Sesampainya di Jakarta, karena kondisi semakin memburuk, termasuk tulang2 saya tidak bisa d gerakkan, akhirnya suami saya memutuskan utk segera menemui Prof. Karnaen, ahli Alergi dan Imunologi d RS Pondok Indah Jakarta. Setelah saya menceritakan kronologinya, sang professor pun menggeleng2kan kepala dan comment : this is unusual case... Sedikit lagi alergi akan menyerang pembuluh darah!!! dan alergi ini disebarluaskan oleh zat sulfa dari obat ber merk Bactrim...
Iiih, wlpn saya gag ngerti apa yang akan terjadi, tapi pernyataan professor tsb membuat bulu kuduk saya merinding...
Akhirnya, kamar 3302 RS Pondok Indah menjadi saksi sekaligus menjadi tujuan akhir kisah petualangan alergi yang saya derita.
Sabar dalam menerima musibah, akan meringankan penderitaan dan bisa menghapus dosa seseorang pada Tuhan...
Kepada sahabat Jepang saya : Pak Atsushi Sano, saya memohon maaf yang sebesar2nya atas kejadian yang menimpa saya sehingga merepotkan banyak pihak terutama pihak Kedubes Jepang d Jakarta dan beberapa pihak di Jepang. Sampaikan permohonan maaf saya atas semua ketidak nyamanan ini. Dan saya berjanji akan berbuat yang terbaik guna berlangsungnya program ini.
(22 November 2008)

Jangan malu bermimpi

Malam ini, seperti malam yang sudah-sudah, saya tidak bisa tidur. 2 tahun belakangan, saya menderita insomnia berat atau dalam Medline Medical Encylopedy ; insomnia is difficulty getting to sleep or staying asleep, or having non-refreshing sleep for at least 1 month without any known physical or mental condition.
Seorang sahabat pernah nasehati, seandainya bukan diri sendiri, lalu siapa yang bisa mengobati?. Karena hal tersebut merupakan salah satu dari akibat tekanan psikis dan mental dari dalam diri. Hehehe...
Menurut analisa saya, 2 tahun belakangan ini memang saya punya 'kerjaan' yang cukup menyita pikiran, bukan fisik. Apalagi didukung oleh karakter yang perfeksionis. Ketika konsultasi ke dokter, dia bilang : "Kalau seandainya kerjaan gag selesai, apa anda akan langsung dipecat?"... hehehe. "Manajemen pikiran anda yang kurang bagus. Harusnya anda bisa memilah kapan saatnya kerja dan saatnya istirahat".
Saya suka bermimpi!... Bagi saya, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia!. Berlarilah, tanpa lelah hingga dapat meraihnya... Wuaaah, terlalu muluk ya!...
Sebelum tidur, saya membiasakan diri membuat dream book. Saya menulis dan menvisualisasikan impian-impian hidup saya ke dalam sebuah "e-diary". Bukan hanya menuliskan saja, tapi tak jarang saya juga menceritakan impian-impian kepada sahabat-sahabat dekat.
Bagi saya, ini adalah cara efektif untuk membuat saya terus termotivasi dan selalu teringat dengan impian hidup yang ingin saya capai. Dalam kurun waktu tertentu, apa yang saya tulis dalam "e- diary" hampir sebagian besar sudah tercapai.
Dalam sebuah perbincangan, saya memberi kesempatan kepada beberapa teman untuk menceritakan impian hidupnya, banyak diantara mereka yang tidak berani melakukannya. Alasanya sederhana, MALU kalau dikira bermimpi besar. MALU kalau nanti tidak tercapai...
Belajar dari Nabi Yusuf AS, salah satu terwujudnya impian Yusuf adalah karena ia berani menceritakan impiannya kepada ayah dan saudaranya-saudaranya ; ".............. wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku". (QS. 12 ayat ke-4)
Seandainya ia meredam impiannya tersebut rapat-rapat, barangkali ceritanya akan berbeda. Sebab kita tahu, bahwa puncak kebencian saudara- saudaranya terjadi saat Yusuf menceritakan impiannya. Cerita terus bergulir hingga Yusuf berhasil mewujudkan impianya.
Ya, sebaiknya kita berani untuk bermimpi, sekaligus berani menceritakan impian tersebut kepada orang lain, khususnya orang-orang yang dekat dengan hidup kita. Seperti halnya suatu bisnis, perlu dikomunikasikan agar orang lain bisa bekerja sama dengan kita.
Demikian juga impian perlu dikomunikasikan untuk membuka jalan kita meraih impian tersebut. Orang-orang yang ada disekeliling kita akan menjadi "reminder" yang sangat bagus dan efektif untuk impian-impian hidup kita.
Ternyata, insomnia saya ada manfaatnya ; membuat saya semakin lama bisa "merajut" MIMPI...
So, jangan pernah malu bermimpi dan menceritakannya kepada orang lain.

Cukup satu langkah

Setelah seminggu 'berlibur' dari rutinitas, saat ini saya on the way to the 'real life'. Walaupun sepertinya belum ikhlas hati ini, tapi ya harus dipaksakan, secara memang saya di takdirkan untuk hidup di Jakarta.
Sebagai Ibu Kota negara, Jakarta menyimpan banyak 'harapan, janji serta mimpi' yang sepertinya bisa dengan mudah setiap orang dapat meraihnya. Sebagai penduduk Jakarta yang 'baru' mendiami selama hampir 20 tahun, saya melihat banyak yang 'tidak kuat' untuk bergumul dengan kondisi metropolitan.
Kerasnya kehidupan metropolis, kadang membuat setiap orang merasa frustasi karena tidak mampu menahan dan menyesuaikan diri dengan keadaan.
Frustasi?. Mungkin itu karena kita ingin mengambil langkah yang terlalu besar, langkah raksasa. Idealnya, langkah raksasa adalah memang yang terbaik, bisa dengan cepat membawa perubahan besar dalam hidup. Tapi perlu diingat, ideal bukanlah kehidupan nyata. Nobody's perfect. Semua jauh dari kesempurnaan, sehebat apapun kita sebagai manusia.
Dikarenakan "kesempurnaan" Jakarta, sehingga setiap orang bernafsu untuk "meraup" segalanya tanpa mempertimbangkan kemampuan diri. Padahal, apabila setiap orang sadar akan self capacity, mungkin apa yang diinginkannya akan tercapai. Mulailah cukup dengan satu langkah kecil saja.
Begitupun dalam menghadapi setiap permasalahan. Belum apa-apa, orang sudah panik, apakah nantinya bisa terselesaikan?. Harusnya, jangan terburu-buru ribut 'mencari hasil' tapi lebih baik 'menemukan proses'. Jadi, kenapa masih saja berkeras mengambil langkah yang terlalu besar?.
Langkah raksasa akan membuat masalah jadi terlihat besar sekali, kompleks dan tak terselesaikan. Akibatnya, kita hanya termenung dan tidak bergerak.
Hasilnya?. NOL besar!. Sabar sebentar. Cermati langkah sekali lagi. Bukankah lebih baik jika mengambil langkah-langkah kecil terus menerus daripada berusaha menelan semua masalah sekaligus?.
Cukup satu langkah kecil, diikuti langkah-langkah kecil lainnya. Terus bergerak maju biarpun lambat. Jauh lebih baik jika kita terus bergerak maju, sekalipun pelan, daripada diam, tidak bergerak sama sekali.So, bila kita tidak mampu berdamai dengan masalah, tidak mungkin mampu bersemangat dalam upaya yg lebih berani mencapai masa depan yg cemerlang.
Tetap Semangat!!

Janji-MU

Sejak seminggu lalu saya meninggalkan Metropolitan, menemani 'lelaki kecil' saya ber Idul Qurban di Gontor. Alhamdulillah, dia tampak semakin dewasa dan 'beda', membuat saya semakin yakin bahwa kedewasaan tumbuh dari 'how to learn', not 'how to feel'...
Mungkin karena jenuh dengan kehidupan kota besar, saya sangat menikmati hari-hari di desa nun jauh dari keriuhan kota. Dan yang paling saya rindukan di Gontor ini adalah, dapat bertemu dengan para 'orang berilmu' yang nasehatnya dapat 'menampar' saya hingga tersadar bahwa sebenarnya I am NOTHING...
Suatu sore, di tengah rintik gerimis yang menyapa bumi, di teras rumah di pojok desa, saya mendapat 'belaian' dari seorang kiai kharismatik. Tentang sebuah makna dari ayat INNA MA'A AL 'USRI YUSROO. Ternyata, selama ini persepsi saya salah yang memaknai kata "MA'A" dengan arti "SETELAH". Dan bahwa ternyata yang benar adalah "DENGAN atau BERSAMA". Iiih merinding saya!. Itu berarti Allah TELAH menjanjikan bahwa BERSAMA/DENGAN KESULITAN, ADA KEMUDAHAN.
Jadi?, mengapa dalam hidup ini kita harus cemas?, harus takut?. Lha wong janji Allah sudah JELAS dan PASTI ditepati. Mengapa kita harus cemas ketika tertimpa masalah?, mengapa kita mesti takut menghadapi hidup?, mengapa kita bersedih ketika tertimpa musibah?. Seolah-olah DIA tidak ada di dekat kita, sepertinya nafas NYA tidak hadir di nafas kita...
Memang, saya ini masih BELUM terlalu KUAT menerima&menghadapi ujian NYA. Saya hanyalah seorang yang sangat biasa, yang masih sering mengeluh, tidak pandai bersyukur dan selalu merasa kurang. Padahal, bila orang merasa kecil dan gagal mencari kebahagiaan, itu bukan karena ia tidak menemukannya, tetapi karena tidak berhenti sejenak untuk menikmati yg telah ia miliki. Dan juga, ketidakpuasan dengan keadaan sekarang adalah kekuatan untuk mengupayakan perubahan. Harusnya saya jangan cuma mengeluh, tetapi segera melakukan sesuatu yg menyelesaikan ketidakpuasan.
Hidup ini tidak ringan, tetapi cara pandang kita dalam memaknai hidup, itu yang menyebabkan kita bisa memilah dan menghargai kehidupan sehingga membuat hidup menjadi indah. Dan ketika kita merasakan bahwa hidup ini berat, jangan berdo'a agar hidup ini menjadi ringan, tapi berdo'alah agar menjadi orang yang tahan banting.
"Innallaha khalaqa wa qaddaraa", sungguh Allah telah mencipta dan telah mengukur kemampuannya (seseorang). Tidak mungkin akan membentangkan barisan permasalahan di depan hambaNYA kecuali dia (orang itu) mampu menyelesaikannya. Nabi Sulaiman AS dianugerahi kemampuan untuk memahami bahasa hewan, Dia malah berkata : liyabluwani a asykuru am akfuru ; itu adalah utk mengujiku apakah aku berlaku syukur atau berlaku kufur... LAA YUKALLIFULLAHU NAFSAN ILLA WUS'AHA.
Saya sangat menikmati ritme kehidupan, dan selalu berusaha untuk menggali nilai-nilai yang 'tersembunyi' dalam setiap keadaan yang terjadi. Itu semua membuat hati&pikiran jadi tersadar bahwa sebenarnya banyak arti hidup yang belum saya ketahui. Yaa Robb, kuatkan hati ini untuk selalu yakin bahwa janjiMU adalah BENAR.
(11 Desember 2008)

18 November 2008

Sendiri Lagi

Hmmm... Pasangan model apa ketika suami-istri mempunyai urusan masing-masing?.
Ini dialami oleh saya dan suami. Ketika beberapa waktu lalu suami saya dapat panggilan untuk mengunjungi Negeri Paman Sam, tak berapa lama kemudian saya mendapat panggilan untuk berkunjung ke Negerinya Hiroko. Dan selisih waktu pun tidak begitu lama. Diperkirakan ketika suami saya belum sampai di Jakarta, saya sudah terbang menuju Jepang...
So, yang terjadi adalah : kami berdua sama-sama bingung, begitupun anak-anak. Sebuah komentar polos meluncur dari anak kami nomer 4 : "Papa ke Amerika, Mama ke Jepang. Aku mau ikut dong biar bisa ketemu sama Power Rangers dan Naruto"...
Sebenarnya perjalanan kami berdua ke "dua negara berbeda" tersebut bukan semata kemauan kami, dan di luar rencana. Dan tujuannya pun bukan untuk jalan-jalan, tetapi ditunjuk oleh pihak yang percaya pada kami untuk melihat keindahan alam di belahan dunia lain. Dan berhubung bukan jalan-jalan, maka segala sesuatu perlu dipersiapkan semaksimal mungkin mengingat kami masing-masing "jalan" membawa "sebuah nama besar" di belakang kami.
Sekarang, saya sedang sendiri lagi. Di sebuah kamar di Tokyo Prince Hotel. Setelah sempat bertemu "sedetik saja" dengan suami. Ya, harusnya suami saya belum datang saat saya akan terbang ke Tokyo. Tetapi, mendadak dia memutuskan untuk pulang dulu, terpisah dari rombongan hanya demi untuk ketemu dengan saya, melepas rindu sejenak dan sebagai tanggungjawab menjaga anak-anak yang sedang bingung di rumah.
Semoga kita semua ikhlas dalam menjalankan tugas dan amanah yang telah dii percayakan kepada kami.
Yang sedang sendiri dan kedinginan di Tokyo : 9 November 2008

24 Oktober 2008

Sendiri dulu

Saya sedang menikmati kesendirian saat ini, secara sejak seminggu lalu, suami saya sedang berada di negara Paman Sam, dan rencananya akan tinggal hingga pertengahan bulan depan.

Rasanya memang beda. Ketika seseorang yang 'masih sendiri' (single) dan yang 'sudah tidak sendiri' (double), mereka akan memaknai kesendirian, dari arti dan sudut pandang yang berbeda.

Almarhum Ayah mertua saya dulu pernah bilang : "deket bau T*I, jauh bau WANGI". Begitulah yg sekarang ini yang sedang saya dan suami saya rasakan. Bukan faktor kangen2an semata. Tapi, ada hal-hal yang sesungguhnya ketika "bersama", menjadi sebuah konflik dan saat "berjauhan", menjadi sebuah ketergantungan.

Sejak kami berjauhan, setiap hari, ketika saya sudah lelah melakukan aktifitas sehari-hari, suami saya menyapa saya via chatting yang notabene, dia baru segar bugar dan akan bersiap melakukan aktifitas.

"Ma, gimana caranya rapiin tempat tidur?. Ada 8 lapis nih, yang mana duluan?".

Pertanyaan tersebut buat saya sangat menggelikan, karena selama kami hidup bersama, boro-boro ngrapiin tempat tidur, jangan-jangan yang namanya seprei aja dia gag tau, hehe.

Mungkin, kalo dia bertanya ketika kami dekat, akan saya cuekin. Tapi, karena kami sedang berjauhan, dengan sabar saya arahkan pelan-pelan.

Begitu juga ketika disini saya harus menghadiri sebuah undangan pernikahan. Padahal, biasanya saya lebih memilih hadir bersama teman-teman atau saudara, ketimbang dengan suami. "Pa, nanti malam ada undangan, aku males hadir ah, sendirian...", hehehe.

Tapi, ada juga hal-hal yang biasanya saya lakukan bersama suami, yang sepertinya saya tidak mampu utk melakukannya, tiba-tiba saya bisa. Seperti ketika beberapa hari yang lalu, saya dengan sukses melobby dan bertemu dengan salah seorang pejabat. Biasanya untuk hal tersebut, saya tidak mau tau, itu urusan suami saya.

Dan juga ketika menghadapi anak sakit. Biasanya saya akan panik, tapi Alhamdulillah saya ringan saja membawa ke dokter, beli obat dan meminumkannya.

Ketika "pasukan tempur" sedang "perang", biasanya juga saya akan ikutan "perang" dan langsung menyerahkan kondisi tersebut kepada suami saya, tapi kali ini, alhamdulillah ringan saja.

Dahulu, nabi Adam juga sendiri dan setelah itu ketemu Hawa yang juga sendiri. Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Pada saatnya, akan terjadi "kesendirian" lagi, ketika dikubur di liang lahat nanti.

Kepada suami saya ; Terimakasih telah menjadikan saya sebagai "seseorang" meskipun tidak sekelas "wonder woman". Terimakasih juga telah menjadikan saya mengerti apa arti hidup beserta prosesnya.

22 Oktober 2008

Apa kabar ?

Temans, apa kabar ?.

Setelah sekian lama kita tak pernah jumpa. Banyak yang 'tlah berubah, dan ku ingin dengar dari ceritamu...

Ya, maafkan saya karena lama gag posting. Tapi, bukan berarti kreatifitas saya jadi terhenti, ide-ide juga jadi mandek. Justru, saya sedang mencari refleksi diri, mengkoreksi diri, apakah selama ini yang saya lakukan sudah benar?, sudah sesuai?, sudah seimbang?...

Aaah, tergantung dari sebelah mana melihatnya. Kalau memang orang selalu memandang bahwa hidup ini jeleeek terus, ya mau gag mau 'mind' dia akan terbentuknya negative thinking terus, termasuk menilai diri saya.

Tapi, tidak apa. Semakin seseorang mendapat "terpaan angin", semakin kuat dia akan berdiri dan berjalan menapaki hidup.

Jadi, be positive. Yakinlah, segala sesuatu mempunyai kekurangan dan kelebihan. Dan, apabila kita melihat suatu keburukan, rubahlah dengan menggunakan lisan. Apabila tidak bisa, rubahlah dengan hati atau lebih baik DIAM.

Salam kangen selalu...

23 Juli 2008

Starting to busy again

Well, segala sesuatu harus dimulai dengan niat. Dan, niat akan terwujud apabila ada keinginan untuk berbuat. Memang betul, hidup adalah perbuatan...
Setelah melewati masa liburan, saya harus kembali lagi memulai kesibukan dengan penuh semangat tentunya. Saya juga menata life mapping untuk ke depan, yang berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan merujuk pada skala prioritas. Hal-hal apa saja yang harus di kerjakan lebih dulu dan mana yang bisa dikerjakan nanti.
My first busy is starting to assist one American Moslem lady who want to learn Arabic and Qur'an in this boarding school (my husband school). Actually, she has everything what people want in this life ; a good carrier, a complete family, big salary and many job experience, studies etc. Oneday, she told me : "happines, I want to get happiness?". Eh?... Dia bilang, "sesungguhnya kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan kepuasan, karena secara manusiawi, orang tidak akan pernah puas selama masih hidup di dunia ini".
Ya, benar. Semakin banyak yang kita cari akan semakin banyak ketidakpuasan yang kita dapatkan. Dan semakin banyak yang kita dapatkan, semakin banyak kepuasan yang akan kita cari.
Suatu hari ditengah waktu liburan kemarin, saya dinasehati oleh teman suami saya. "Udaaah... mau ngapain lagi?, kalo diturutin terus mah nggak rapi-rapi tu kerjaan. Jangan sampai kelupaan hal yang penting, perhatiin anak dan jaga kesehatan. Dan jangan dijadikan alasan kalo kerja itu nyari berkah nya"... Saya pun berkesimpulan, apa salahnya kalo kita bisa mencapai sesuatu, kemudian kita nikmati apa yang sudah kita dapatkan. Yang dinikmati adalah bukan saja hasil yang sudah tercapai, tapi keseimbangan hidup. Lha terus, nek ngoyo terus, mengko ora entuk sing penak-penak, malah awak loro kabeh, hehe.
Saya sedang mencoba untuk lebih santai dalam hidup ini. Hal-hal yang harus saya kerjakan, tidak usah dipikirkan, just learning by doing saja. Dan beberapa rencana, tidak usah saya targetkan, malahan nanti akan bikin stress kalo target tidak tercapai. Semoga saya bisa...

14 Juli 2008

Misteri Ilahi

Setelah melalui perjalanan panjang, berlibur bersama anak-anak, akhirnya saya kembali ke rumah dengan selamat. Alhamdulillah...
Yang saya rasakan saat ini adalah capek, lelah dan badan pegal-pegal. Tapi, saya juga merasakan penyegaran kembali, alias re-freshing. Selama perjalanan, banyak sekali yang saya dapatkan, saya renungkan dan saya rasakan. Dan saya menikmati semua itu.
Hidup ini memang harus selalu dinikmati. Walaupun proses untuk mencapai kenikmatan itu sangatlah rumit dan berliku. Setiap orang tidak akan sama, ada yang ringan ada pula yang berat. Tergantung me-manage nya saja.
Betapa Allah telah menciptakan bumi beserta isinya dengan penuh hikmah yang terkandung di dalamnya. Hikmah itu bagaikan misteri yang tidak bisa ditebak. Coba saja, begitu banyak hutan, gunung, sawah, laut, sungai, jalanan, manusia... Semua dapat "berdiri" pada posisi nya. Dan semua sudah di atur agar tidak saling berbenturan satu sama lain. Subhanallah. Bisa saja gunung yang menjulang tinggi tiba-tiba roboh menimpa jalanan atau air laut tumpah ke hutan... Semua itu merupakan misteri Ilahi. Maka, apabila tidak pernah mau bersyukur, itu berarti mengingkari nikmat Allah.
Selama perjalanan, di setiap kota yang saya singgahi, saya perhatikan orang-orang berlalu lalang melakukan aktifitasnya. Masing-masing punya kesibukan, maksud dan tujuan. Tukang becak, supir angkot, tukang parkir, eksekutif muda, pegawai pemerintahan, pelaku bisnis, mereka mempunyai tujuan dan maksud untuk hidup yang harus dipertanggungjawabkan. Di dunia, mereka bertanggungjawab kepada keluarganya, anak dan istrinya. Dan di akherat kelak, mereka harus bertanggungjawab terhadap sang pencipta. Tujuan hidup mereka adalah semata mata hanya agar bagaimana bisa bermanfaat bagi sesama.
Dan semua itu juga merupakan misteri Ilahi, ada yang memang diciptakan menjadi orang baik sehingga menjadi baik, dan ada pula yang ingin baik tapi melalui jalan yang tidak baik. Mengapa ada Dokter, Polisi, Guru?. Karena mereka sudah tau bagaimana menjadi baik dan bagaimana memanfaatkan hidup mereka agar menjadi baik. Dan mengapa juga ada pencuri, perampok, koruptor?. Karena mereka sebenarnya ingin menjadi baik hanya saja jalan yang mereka lalui tidak baik. Sekali lagi, misteri Ilahi yang bicara.
Orang yang paling bahagia di dunia ini, belum tentu mempunyai semua yang terbaik. Mereka hanya berusaha untuk meraih apa yang di inginkan agar menjadi yang terbaik.

01 Juli 2008

Libur 'tlah tiba

Sebenarnya, liburan ini ditujukan kepada anak-anak yang sedang sekolah, baik TK, SD, SMP, SMA dsb. Berhubung 'pasukan tempur' saya adalah anak sekolahan semua, jadi mau nggak mau, saya sebagai 'induk semang' nya harus ikut menikmati liburan. Secara kerjaan saya juga selalu berhubungan dengan urusan 'berlibur'. Bahkan menurut saya "work is only for people who don't know how to play golf"... Asyiiikkk.
Setiap liburan tiba, saya tidak pernah merencanakan sebelumnya kemana tujuan untuk berlibur. Karena, anak-anak masih kecil-kecil, takutnya kalau direncanakan, malah pas hari H nya mereka nagih dan sedangkan diantara mereka, salah satunya ada yang kena sakit. Jadi, ya to the point aja, kemana mau pergi, ya jalan saja. Yang penting jalan.
Dan setiap liburan dengan anak-anak, saya sengaja tidak membawa pengasuh maupun asisten rumah tangga. Hayo aja, dengan kondisi 4 anak (harusnya 5, tapi yang sulung sedang menuntut ilmu di luar kota), saya kerjakan sendiri dari mulai packing pakaian sampai menyiapkan segala macam konsumsi, perlengkapan 'spesial bocah' seperti susu, botol, diapers, mainan. Disini seni nya. Bahkan, saya menguasai beberapa trik, sehingga seandainya mereka rewel karena boring di jalan, bisa aman terkendali. Salah satunya, saya sengaja menyimpan mainan mereka di tas saya, dan mengeluarkannya satu persatu. Kalo sudah bosen dengan satu mainan, akan saya keluarkan mainan lainnya, dan begitu seterusnya. Tidak lupa, bantal dan selimut adalah hal yang paling penting dan tidak boleh ketinggalan dalam kamus liburan anak-anak saya. Selanjutnya, biarkan saja mereka bermain ala dunia nya selama berada di mobil, jangan dilarang. Ntar juga capek sendiri.
Memang, kondisinya akan seperti kapal pecah, selalu berantakan dan ribut. Berantem adalah hal yang biasa. Dengan begitu, masing-masing anak dapat belajar mencari solusi, mengalah, bekerjasama dan menyelesaikan masalah, sehingga bisa mencerdaskan emosi. Karena saya sudah terbiasa dengan anak banyak, jadi kondisi-kondisi ramai begitu saya nikmati saja.
Liburan kali ini, Insya Allah direncanakan menuju ke Jawa dan Bali. Selain berlibur, kebetulan saya ada kerjaan di Bali untuk beberapa waktu. Saya hanya mengajak 1 anak saya ke Bali. Karena, saya akan banyak kerjanya daripada berliburnya. Biar saja anak saya ikut menikmati dan menyaksikan apa yang akan dikerjakan oleh mamanya.
Biarkan saja anak-anak menikmati apa yang sedang terjadi pada masanya. Bermain, bermain dan bermain yang kemudian akan timbul suatu pelajaran yang tidak akan mereka dapatkan di sekolah. Kenalkan anak-anak pada alam, agar dapat menghargai ciptaan Allah. Ajarkan kepada mereka berhitung agar terbiasa berfikir logis dan biarkan anak berinteraksi dengan orang lain agar terbentuk sikap sportif.

27 Juni 2008

Dalam hati saja

Sebenarnya, saya termasuk orang yang paling tidak bisa menyimpan sesuatu dalam hati. Bukannya ember, selain hal itu bikin sesak, saya memang nggak bisa tahan. Hanya benar-benar close person saja yang bisa saya ceritain apa yang sedang terjadi dalam diri saya saat itu, kemarin dan entah kapan. Pokoknya, uneg-uneg atau apa saja, enak nggak enak yang tersimpan dalam hati, harus keluar as soon as possible. Tentu saja setelah melalui proses refleksi diri, nggak asal goblek. Biasanya, suami saya adalah orang pertama yang saya curhati.
Akhir-akhir ini, entah kenapa, saya tidak bisa. Diupayakan bagaimanapun, saya tetap tidak bisa. Sepertinya ada sekat yang dalam yang menghalangi saya untuk mencurahkan isi hati dan perasaan. Saya jadi males ngomong, nggak mau ambil pusing dan cenderung menyibukkan diri agar yang ada di hati bisa lewat dan lupa, nggak mau saya pikirin. Ujung-ujungnya, kepala saya jadi sering pusing, sulit tidur dan tampang saya terlihat amat lelah.
Memang sih, yang terjadi adalah saya sangat (sok) sibuk mengerjakan apa yang kira-kira bisa dikerjakan. Positifnya, saya jadi produktif. Ide-ide baru bermunculan, ringan saja dan bisa di terima orang banyak.
Kadang, sesuatu hal yang tidak mengenakkan bisa memacu seseorang menjadi produktif. Pengalaman juga bisa menjadikan seseorang lebih tau dari yang sebelumnya tidak tau. Kematangan diri muncul akibat dari berbagai pengalaman yang dialami dalam hidup.
Ada beberapa hal yang saat ini benar-benar terpendam dalam hati saya. Semoga tidak menjadi karat. Saya sedang berusaha mencari titik terang solusinya. Tapi saya ogah-ogahan, karena ya itu tadi, saya nggak mau mikirin, tapi harus dipikirn. Saya harus tegar, meskipun harus berpura-pura. Dan yang terjadi, saya harus menyibukkan diri supaya yang tadinya harus dipikirin, saya nggak gitu mikir lagi. Tetap saja nggantung. Saya pun berkesimpulan, lebih baik diam daripada capek mikirin apa yang terjadi.
Haruskah egois?, haruskah benci?, haruskan mengeluh terhadap apa yang saya alami?. Kadang saya punya pikiran jahat, biar saja orang-orang yang menyakiti saya nanti suatu saat akan tersakiti. Bagaimana menilainya bahwa orang tersebut menyakiti saya?. Mungkin saja dia berbuat begitu karena perbuatan saya yang tidak menyenangkan?. Lalu, kenapa harus benci?.
Biarlah saya simpan dalam hati saja. Just wait and see what will happen...

24 Juni 2008

Inna ma'al 'usri yusroo

Sesungguhnya setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Sama saja seperti anak sekolah, kalau mau naek kelas, harus ikut ujian dulu. Dan kalau mau dapat nilai tinggi, harus giat belajar. Dan agar giat belajar, harus pandai-pandai mengatur waktu.
Kejadian-kejadian tersebut, saat ini terkondisikan kepada saya. Ada rasa lelah, menghadapi ujian dan cobaan. Tapi ada juga rasa syukur dan senang ketika saya mendapatkan banyak "hadiah", dan itu datangnya langsung dari YANG DIATAS, yang sudah mendengar do'a-do'a saya selama ini. Saya adalah nominasi yang harus mendapatkan "hadiah", tapi sebelumnya harus melewati berbagai ujian dan rintangan. Kalau saya sabar dan berhasil menghadapinya, berarti saya "lulus".
Kalau boleh nawar, saya maunya "lulus" dan dapat "hadiah", tapi saya nggak mau ujian. Capek. Karena ujian yang datang ke saya saat ini, bukan seperti saat sekolah dulu, yang kalau nggak faham dan nggak ngerti pelajaran, saya bisa nanya ke guru atau ibu. Ujian saya sekarang ini, benar-benar harus dihadapi sendirian, mencari solusi dan menikmati kesabaran ya sendirian juga. Suami, ortu, teman, hanya sebagai penggembira saja. Tidak banyak membantu. Karena, ini adalah ujian kehidupan, menyangkut batin, emosi dan -kalau boleh dibilang- tekanan. Semua itu adalah pelajaran hidup. Tidak pernah didapat di bangku sekolah.
Hidup berjalan layaknya air yang mengalir dari hulu ke hilir. Sepanjang perjalanan, akan ditemui batu, kotoran, pasir dan berbagai macam hambatan. Tapi, harus tetap mengalir, sampai tercapai ke tujuan.
Saya sedang mendapatkan BANYAK "hadiah". Darimana?, yang pasti dari Yang DIATAS. Beberapa aplikasi saya untuk mengikuti course ke luar negeri, (Alhamdulillah) banyak disetujui. Dan itu datangnya bertubi-tubi, BUKAN silih berganti. Sampai, hampir saya menolak salah satunya. Teman saya komentar, "aneh deh lu, orang pada pingin dapet kesempatan seperti ini, malah lu yang udah jelas-jelas dapet kok nolak". Banyak juga yang komentar, "enak banget ya bisa liat negara orang secara gratis". BETUL,,,!!! enak kalau begini. Tapi... apakah mereka tau, sebelum saya mendapatkan semuanya itu, saya harus melewati ujian yang sangat-sangat berat?.
Karena seringnya saya mengalami kejadian seperti itu, akhirnya ketika saya mengalami hal yang menurut saya adalah suatu "ujian", maka saya akan berbaik sangka bahwa setelah ini PASTI ada kenikmatan yang datang kepada saya. Dan ndilalah, perkiraan tersebut tidak pernah meleset. Saya pun menikmati ritme kehidupan seperti itu, walaupun sangat melelahkan.
Jujur saja, sebenarnya saya KURANG BANYAK berdo'a kepada NYA. Tapi, kog DIA terus menerus memberi saya "hadiah" ya?. Gimana kalau saya banyakin do'a?, banyakin minta?.
Dalam hati saya juga bertanya, kenapa juga DIA ngasih "hadiah" setelah saya mendapatkan "ujian?". Apakah saya sudah pantas untuk mendapat nominasi seperti itu?. Saya masih banyak mengeluh, masih kurang bisa sabar dan masih terlalu lemah untuk menghadapi "ujian" hidup. Dan saya akan mudah sombong, berbangga diri dan angkuh ketika saya menerima "hadiah".
Inna ma'al 'usri yusro...

16 Juni 2008

Yang muda, yang bergaya

Secara sering nonton tivi, akhirnya saya sering mengamati berbagai acara di tivi. Bukan hanya acaranya saja yang saya amati, tapi berbagai macam perkembangan informasi, tingkah laku, mode, gaya rambut, gaya bicara para artis muda yang tampangnya sering bermunculan di layar kaca. Saya lagi seneng merhatiin tingkah mereka yang dengan gaya dan ciri khas tertentu, mendominasi layar kaca.
"Mana becek, ngga ada ojek", begitulah gaya bicara hot artis muda Cinta Laura. Dengan logat 'ke bule-bule an' (dan she's really bule). Entah karena memang gaya bicara dia modelnya begitu atau dibuat-buat secara dia artis, tapi saya seneng dengernya.
Ada Giring Nidji, dengan gaya nyanyi nya yang loncat sana loncat sini, tapi saya suka. Memang, ngliat dia kayaknya bikin capek dan saya juga mikir sekaligus kasian, mau dapet duit aja kok pake loncat-loncatan gitu. Tapi itu memang gaya dia, fresh dan bisa bikin semangat. Saya suka. Ada juga gaya Ruben Onsu yang ceplas ceplos, walau cenderung kasar. Tapi dia bisa membuat segar suasana. Dan yang unik, gaya ala The Changcuters, gila abiiis. Tampangnya yang blo'on, bisa bikin orang menyangka bahwa mereka blo'on beneran...
Sepertinya mereka punya tingkat ke-pede-an yang sangat tinggi. Nggak papa, bagus. Mereka bisa mengekspresikan apa yang mereka punya. Dan ndilalah, mereka bisa mendapat tempat di hati orang banyak. Sangat sulit untuk dapat ber-ekspresi, belum lagi demam panggung, nervous... wah, itu kendala utama agar bisa tampil di depan khalayak.
Dari perspektif komunikasi, sebagai penyampai pesan, para artis dan aktor harus mempunyai kemampuan khusus agar pesan yang disampaikan bisa sampai dan diterima oleh khalayak. Bakat hanya sepersekian persen saja, karena kalaupun ada bakat tapi nggak pernah diasah, sama saja seperti pisau, akan jadi kethul.
Saya tidak pandai dalam menilai orang, saya hanya bisanya komentar saja. Padahal, paling sebel kalo dikomentari apalagi kalau menyangkut hal yang negatif.
Pada dasarnya setiap manusia diciptakan berdasarkan kodratnya.....

15 Juni 2008

Apa yang saya cari?

Seminggu yang lalu, saya melakukan General Check Up, secara memang sudah lama saya nggak check up. Jum'at kemarin hasil nya sudah siap dan saya konsultasikan ke dokter. Alhamdulillah nggak ada yang serius pada hasil lab tersebut, hanya saja dokter memberi kesimpulan bahwa 'hati saya terlalu capek', eh?... So funny...
"Hati anda terlalu capek, sebaiknya anda melakukan istirahat yang cukup. Istirahat disini bukan hanya dalam artian fisik, tapi cobalah anda mengistirahatkan pikiran anda, rileks, jangan ada sesuatu yang dijadikan beban", begitulah kata dokter. "Metabolisme tubuh anda tidak bagus karena sepertinya anda terlalu lelah", begitu lanjut dokter. Saya pun bengong, nggak nyangka akan mendapatkan penjelasan seperti itu. Hebat, bahwa 'hati yang capek', bisa terdeteksi sedemikian rupa.
Saya menyadari itu, menyadari bahwa ada yang lelah pada diri saya yang tidak pernah saya rasakan. Selama ini, saya selalu mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab dan pekerjaan saya, dan saya merasa enjoy, asyik, dan sangat nikmat apabila suatu pekerjaan itu berhasi dan sesuai target. Saya juga tidak pernah itungan, berapa rupiah yang akan saya dapatkan jika saya sedang mengerjakan sesuatu. Kalau mengasyikkan buat saya, akan saya lanjutkan, nggak ada pikiran macam-macam.
Lalu, sebenarnya apa yang saya cari?.
Sampai detik ini, tidak pernah saya dapatkan jawabannya, jawaban yang sesungguhnya. Saya hanya seseorang yang sangat biasa, yang tidak mau terlalu bermimpi untuk mengharapkan sesuatu yang muluk-muluk. Biarlah hidup saya ini mengalir seperti air dan udara, bermanfaat untuk semua orang. Alhamdulillah, sekarang saya sedang mendapatkan 'posisi nyaman' dalam siklus kehidupan. Jadi, biar saja 'kenyamanan' ini agar bisa dirasakan oleh orang-orang yang menyayangi saya.
Sampai kapan?
Nggak tau... Saya hanya ingin bermanfaat untuk ummat, sesuai do'a orang tua saya, yang selalu bilang dalam do'a nya "semoga anak saya bisa bermanfaat untuk semua orang".
Apakah yang saya lakukan selama ini adalah salah?.
Setiap orang pasti punya rasa tidak puas dan selalu ingin sempurna. Padahal, kesempurnaan hanyalah milik Allah. Kadangkala, ketika saya disalahkan orang, saya sedih. Itu manusiawi. Karena saya merasa melakukan semuanya, nggak itungan. Jadi kalo ada orang nggak menghargai apa yang telah saya kerjakan, pasti sedih.
Terus, apakah saya merasa sudah melakukan semuanya dengan baik?
Nggak juga, kalo saya sudah merasa baik, berarti nggak ada keinginan saya untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas diri saya untuk menjadi lebih baik.
Jadi, apa sesungguhnya yang saya cari?
Wa maa tasyaauuna illaa an yasyaa'allahu robbul 'aalamiin. "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam". (At Takwiir 29)

09 Juni 2008

Adilkah ini cinta ?

Saya sedang senewen, mendapat kabar dari sekolah anak saya yang 'nun jauh disana', bahwa nilai rata-ratanya turun. Dan saya juga sedih ketika mendengar bahwa sakit yang diderita anak saya tak kunjung sembuh.
Sebagai seorang ibu, naluri saya langsung bereaksi, walaupun sedikit banyak diwarnai oleh emosi. Saya langsung protes kepada suami, agar anak kami untuk sementara dipulangkan saja dan jangan dipaksa meneruskan sekolahnya yang 'nun jauh disana', sampai dia benar-benar siap. Saya pun menghubungi anak saya, dengan nada kecewa, saya menyampaikan bahwa kalau tidak ada kemajuan dalam 3 bulan kedepan, lebih baik pulang saja. Jangan dipaksakan, toh menuntut ilmu bisa dimana saja dan kapan saja, "utlubil 'ilma minal mahdi ilallahdi".
Ternyata, baik suami maupun anak saya bereaksi negatif terhadap pernyataan saya tadi. Anak saya bilang ke papanya : "mama kok gitu sih, nggak mendukung mas, padahal mas kan pengen kayak papa dan ada temen mas yang lebih parah tapi mamanya nggak nyuruh pulang". Suami saya pun tak kalah keras, dia malah menuduh bahwa saya "menggembosi" dan bukannya malah mendukung. Astaghfirullah...
Saya langsung protes atas tuduhan-tuduhan itu. Demi Allah, tidak ada sedikitpun maksud saya untuk melakukan aksi "boikot" atas pilihan anak saya untuk studi. Bagaimanapun, yang namanya orang tua, ingin agar anak-anaknya menjadi lebih baik dari orang tuanya.
Sebagai seorang ibu, dimanapun berada, pasti mempunyai perasaan yang sangat peka terhadap kejadian apapun yang menimpa anak-anak. Begitupun saya, ketika mendapat laporan yang kurang baik tentang anak-anak, naluri keibuan akan secara refleks tersirat dalam benak pikiran. Saya pikir, sangat wajar apabila saya sampai mengungkapkan protes tentang ketidaknyamanan anak saya tersebut. Ini dilakukan karena saya sayang dan cinta sama anak saya. Tapi, kenapa mereka (anak saya dan papanya) tidak memahami rasa cinta yang saya miliki?. Haruskah mereka memaksakan bahwa hanya cinta mereka saja yang bisa dirasakan?.
Adilkah ini cinta?.....
Harusnya mereka bisa memahami perasaan saya sebagai seorang ibu. Karena hanya CINTA dan DO'A yang saya punya untuk kebaikan semua orang yang saya cintai dan sayangi. Tapi, apakah mereka (orang-orang yang saya cintai dan sayangi) merasakan akan hadirnya cinta tersebut?.
Adilkah ini cinta?.....