30 Maret 2008

Investasi

Mau tau masa depan?. Tidak usah tanya tukang ramal, tapi ingat saja nasehat nenek : "masa depan ditentukan oleh apa yang kau lakukan hari ini".
Saya sedang jatuh cinta pada sesuatu yang ada di foto ini, yang menurut saya adalah merupakan investasi yang bukan saja sangat menjanjikan, tapi juga sangat-sangat menguntungkan.
Memang sih, untuk membuat seseorang jatuh cinta terhadap sesuatu yang akan di investasikan, itu memang perlu proses. Saya pun demikian. Pada awalnya, suami saya sangat getol membicarakan investasi, tapi saya tidak peduli, yang penting sekarang saya dan anak-anak bisa makan, beli pakaian, jalan-jalan... that's it.
Tetapi ternyata tidak sesederhana itu. Bagaimana jika nanti sesuatu hal buruk yang tidak terduga menimpa keluarga saya?, khususnya yang menyangkut masalah financial?, apakah selamanya harus hidup seperti apa adanya, tidak memikirkan masa depan?, anak-anak bagaimana?, pendidikannya?, kesehatannya?... Wah, lalu saya berpikir keras gimana caranya supaya saya bisa jatuh cinta sama yang namanya "investasi".
Buat saya, masa depan adalah hari ini. Saya sangat percaya pada perkataan "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian dan akan menemukan wujudnya di masa mendatang". Biar saja, rumah dan mobil saya jelek sekarang. Padahal, kalaupun dipaksakan, saya dan suami mampu untuk hidup bermewah-mewah saat ini. Tapi saya mikir, ngapain beli Jaguar milyaran, toh bentuk ban nya masih sama bundar dan kalau kena macet, masih berhenti juga...
Suatu hari, saya baca di salah satu koran nasional. Koran tersebut menyajikan judul besar "SEDIA PAYUNG SEBELUM BADAI, pertama-tama orang harus melek investasi, kemudian berinvestasilah sebelum badai ekonomi menggulung"... Iiih, maka makin semangat saya untuk berinvestasi.
Pernah saya terbengong-bengong, ketika menyaksikan seorang kerabat membeli gebyok jawa untuk menghias rumahnya. Padahal, kalau dihitung-hitung, harga gebyok jawa itu senilai satu hektar lahan sawit..... Memang, berinvestasi adalah masalah keyakinan. Ada yang bisa meneropong, ada yang tidak bisa dan ada yang remang-remang. Kadang, ada yang berpatokan pada penghasilan bulanan, alias gaji. Bagaimana mau investasi, wong gaji aja pas-pasan?. Pada dasarnya, besaran gaji bukanlah faktor penentu soal mampu tidaknya seseorang berinvestasi. Faktor penentunya adalah gaya hidup dan pola pikir. Jangan berpikir bahwa kita tidak bisa menabung lantaran gaji sedikit. Itu tidak benar. Gaji berapa pun, kalau memang kita masih berpola pikir boros ya sama saja.
Ada tiga tipe kepribadian orang dalam urusan duit. Tipe pertama adalah Si Boros. Ini orang yang doyan ganti-ganti ponsel, mengkoleksi kartu kredit, cita-cita hidupnya bersenang-senang, tetapi uang habis terus. Tipe kedua adalah Si Hemat. Ini tipikal orang yang getol menabung, cita-citanya banyak uang, tapi uangnya tidak banyak-banyak amat. Tipe ketiga adalah Si Investor. Orang jenis ini bercita-cita membangun dana masa depan dan ingin menikmati hari tua, tidak mau repot kalau dirinya sudah tidak mampu untuk menghasilkan uang.
"PADA AKHIR ZAMAN, KELAK MANUSIA HARUS MENYEDIAKAN HARTA UNTUK MENEGAKKAN URUSAN AGAMA DAN URUSAN DUNIANYA" (HR. Atthabrani)

28 Maret 2008

Separuh nyawa

Separuh nyawa saya hilang..........

Kemaren, anak sulung saya kembali masuk asrama sekolahnya setelah libur selama seminggu. Dia adalah separuh nafas saya, dan saya yakin, setiap orang akan merasakan bingung, sedih, kehilangan dan tidak ikhlas ketika separuh nyawa nya 'hilang', walau untuk sementara. Perasaan itu muncul secara otomatis pada diri seorang ibu seperti saya.
Dia, lelaki kecil itu -yang sekarang sudah tidak kecil lagi-, sudah berubah baik secara fisik maupun pemikiran. Ada ketakutan dalam diri saya, takut kalah pinter dan kalah kuat menghadapi hidup. Saya melihat potensi dia sebagai anak sulung, sudah mampu mengerti apa arti tanggung jawab. Dia sudah banyak berubah, dan saya kagum padanya. Saya merasa punya hutang, karena dia belajar semua itu justru tidak dari saya. Dia mencoba mencari arti hidup yang akan dihadapi, seorang diri tanpa didampingi oleh saya. Dan memang begitu seharusnya, karena dia laki-laki. Saya tidak boleh takut dan cemas, karena semua ini merupakan pembelajaran buat saya dan dia.
Ketika masih kecil, dia berlaku sebagaimana anak kecil pada umumnya, nakal dan usil, sampai-sampai saya tidak pernah membayangkan akan terjadi perubahan pada dirinya.
Seminggu lalu, waktu dia kembali ke rumah untuk berlibur, semua daya dan upaya saya konsentrasikan hanya untuk dia. Bahkan, malam menjelang kedatangan, mata saya sulit terpejam, waktu terasa begitu sangat lambat. Dan selama seminggu menemaninya, saya lepaskan semua aktivitas saya yang tidak ada hubungannya dengan dia.
Dan hari ini, dia sudah kembali disibukkan oleh rutinitas sekolahnya. Saya yakin, dia pun menyadari semuanya ini agar mendapat yang terbaik. Sekali lagi, saya harus tawakal, ikhlas, percaya dan selalu berdo'a yang terbaik untuk dia.
Seandainya saja saat ini bisa kukatakan jangan kau tinggalkan.......

24 Maret 2008

Do'a

Tadi siang, saya mengantar jama'ah umroh saya ke bandara Soekarno-Hatta. Ketika berpamitan, saya bilang ke salah satu jama'ah : "do'ain saya ya bu...". Ibu itu balik bertanya : "wah, do'ain apanya ya mbak, wong udah kemilikan semua". Eh, bengonglah saya...
Sebetulnya, siapa saja sih yang boleh berdo'a/nitip do'a/di do'akan?.
Arti do'a adalah memohon atau meminta sesuatu yang bersifat baik kepada Allah SWT, seperti meminta keselamatan hidup, rizki yang halal dan keteguhan iman. Sebaiknya kita selalu berdo'a setiap saat karena Allah Maha Mendengar.
Tujuan berdo'a adalah memohon hidup selalu dalam bimbingan Allah SWT, agar selamat dunia akhirat, untuk mengungkapkan rasa syukur dan meminta perlindungan Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk.
Suatu hari, saya pernah ngobrol dengan salah satu Kiai besar di Jawa Timur. Alhamdulillah, beliau diberi kenikmatan bahwa anak-anaknya selalu berhasil dalam belajar/menuntut ilmu. Ada yang meraih gelar cumlaude dari universitas terkenal di LN, ada yang mengambil kuliah di 2 universitas negeri sekaligus dengan jurusan yang tidak biasa, ada lagi anak beliau yang masih berusia belasan tapi sudah menghafal sekian belas juz dalam Al Qur'an. Saya bertanya kepada beliau "ya Ustadz, apa sih rahasianya?". Dengan santai beliau menjawab : "saya selalu minta do'a kepada siapa saja untuk anak-anak saya, termasuk kepada penjahat dan bajingan...".
Saya lalu berfikir, orang jahat aja do'anya di dengar sama Allah, apalagi orang baik. Dan bahkan do'a orang yang teraniaya malah justru lebih maqbul. Tuhan bukan hanya ada untuk orang-orang yang ta'at saja, tapi juga ada untuk orang-orang yang berdosa.
Trus, apa ada yang tidak beres pada diri saya, sehingga orang yang saya titipi do'a kok malah meragukan saya?. Kadang-kadang, keadaan yang membuat saya jadi sombong, seolah saya udah nggak perlu do'a dan di do'akan. Seringkali saya di GE ER in sama situasi dan kondisi. Padahal, saya adalah seorang wanita yang sangat biasa yang tidak bisa hidup tanpa cinta dari orang-orang yang mencintai. Saya selalu berusaha dalam setiap apapun, agar semuanya menjadi baik, bi idznillah tentunya. Jadi, saya masih perlu diingetin dan di do'ain agar tidak terlena oleh semua keberhasilan yang sudah di gariskan Allah yang diberikan kepada saya.
Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala yang terjadi di bumi ini.

14 Maret 2008

Motivasi

Last weekend, i went to Bandung with my hubby secara memang saya lagi sangat suntuk dan menginginkan suasana baru. Banyak hal yang membuat saya suntuk ; masalah kerjaan, kangen anak dan lain-lain. Ya lah, orang hidup mah nggak ada beresnya kalo dipikirin.
Di dalam mobil di kawasan tol Cipularang, kala itu hujan sangat lebat, saya terlibat perbincangan hangat dan 'agak berat' dengan suami saya. Diantaranya tentang harapan-harapan ke depan dan juga tentang motivasi.
Saya tanyakan ke suami saya, "apa sih motivasi itu?". Sepertinya dia kaget juga kok tiba-tiba saya bertanya tentang hal tersebut.
Menurut Wikipedia :
Motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan dan mempertahankan perilaku. Dengan kata lain adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) dimaksudkan : desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.
Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh organisasi.
Untuk menghindari kekurangtepatan penggunaan istilah motivasi ini, perlu dipahami tentang adanya istilah-istilah yang mirip dan sering dikacaukan tentang motivasi tersebut, antara lain : motif, motivasi, motivasi kerja, dan insentif.
a. Motif
Kata motif disamakan artinya dengan kata-kata motive, motif, dorongan, alasan dan driving force. Motif adalah daya pendorong atau tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia bertindak. Dikatakan bahwa rumusan yang berbunyi motive are the way of behaviour adalah tepat. Artinya, mengapa timbul tingkah laku seseorang, itulah motive.
b. Motivasi
Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidak seimbangan. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan.
c. Motivasi kerja
Bertolak dari arti kata motivasi tadi, maka yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Atau dengan kata lain pendorong semangat kerja. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja adalah : atasan, rekan sekerja, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang dan non uang, jenis pekerjaan dan tantangan. Jadi motivasi individu untuk bekerja sangat dipengaruhi oleh sistem kebutuhannya.
d. Insentif
Istilah insentif (incentive) dapat diganti dengan kata : alat motivasi, sarana motivasi, sarana penimbulan motive atau sarana yang menimbulkan dorongan. Dengan pembatasan-pembatasan penggantian istilah-istilah tersebut diatas, dapatlah dihindari pengkacaubalauan penggunaan istilah yang menyangkut motivasi tersebut.
Kenapa tiba-tiba saya penasaran dengan arti "motivasi?"
Selama ini, alhamdulillah saya ditunjuk untuk menangani suatu project kerjasama dengan salah satu lembaga pendidikan di Inggris. Saya sadar, ini merupakan suatu hal yang sangat menguntungkan bagi saya karena akan menambah pengalaman hidup saya. Kesadaran saya bermula dari ketika saya diutus beberapa kali ke negoro Inggris secara gratis, alias saya pergi dibiayai oleh instansi suami saya. Dan, saya pun tidak sendiri, tetapi didampingi oleh beberapa rekan.
Ternyata, ngerjain project dengan wong bule gampang-gampang sulit. Nah... berawal dari inilah timbul pertanyaan saya tentang motivasi.
Seiring berjalannya waktu, saya merasa 'single fighter' dalam mengerjakan project-project tersebut. Ide, inisiatif hampir semuanya datang dari diri saya. Sementara, beberapa rekan saya 'adem ayem' saja. Sepertinya kok saya nggak ikhlas ya. Saya mengeluh... Dimana kesadaran mereka?.
Suami saya berpendapat, ada beberapa kemungkinan kenapa rekan-rekan saya berbuat demikian. Mereka tidak ngerti apa yang harus diperbuat atau mereka sibuk dengan tugas intinya dan bisa jadi mereka sangat mempercayai saya, bahwa segala sesuatu akan running well bila dikerjakan oleh saya. That's it. Saya positive thinking saja.
So, ambil positifnya saja. Apabila kita merasa mampu mengerjakan sesuatu, kerjakanlah. Innallaaha ya'lamu maadza ta'maluun... Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.

10 Maret 2008

Monyet




Ada apa dengan monyet ?
Beberapa waktu lalu, ketika saya mengantar teman-teman bule saya ke Bali, mampirlah kami ke Monkey Forest di daerah Ubud. Foto-foto diatas menggambarkan betapa sebenarnya saya sangat 'over acting' (atau salting???) ketika berhadapan dengan monyet...
Dan, tampaknya sang monyet juga bingung, kenapa nih manusia kok jadi aneh sekali... padahal si monyet hanya sekedar numpang nangkring karena penasaran pengen kenalan dengan wanita cantik berkulit mulus, suiiit suiiittt.....
Lalu, kenapa mesti monyet? bukan kera?
Monyet bisa multi arti ;
- yang sebenarnya adalah nama hewan yang mirip dengan manusia
- apabila di ucapkan dengan nada marah dan ditujukan kepada lawan bicara, maka akan menyebabkan orang tersinggung
- pantas untuk 'misuhi' orang... nggak mungkin ada orang misuh dengan kata-kata "kera luh..."
- dan juga tidak ada orang latah dengan menyebut "aduh kera..."
"Monyet-monyet di hutan, sadarkah kalian selalu diperolok oleh manusia?"
"Hei manusia, kalian ini aneh... mengapa tidak akui saja bahwa pada dasarnya kita memang punya kesamaan?"
Laula al ilmu lakaana annaasu kal bahaaimi = kalaulah bukan karena ilmu, maka manusia bagaikan binatang


02 Maret 2008

Fenomena AAC the movie

Untuk kedua kalinya saya nonton Ayat-Ayat Cinta (AAC). Kemaren malam, saya menemani sang suami. Tidak ada yang beda dari film tersebut dengan yang saya tonton pertama kali.
Film AAC menjadi fenomenal, seperti novelnya. Pertama kali di launch, langsung meledak di pasaran. Bayangkan saja, saya datang jam 20:00 untuk beli tiket yang tayang jam 22:30. Ternyata sold out. Adanya untuk pertunjukan jam 23:30. Padahal seluruh studio di bioskop tersebut menayangkan AAC, dan pada jam berbeda dan waktu yang berurutan. Memang, waktu itu malam minggu, AAC ditayangkan secara midnight.
Kami berdua jarang sekali nonton film Indonesia. Untuk kali ini, karena keterikatan emosi dengan Mesir, jadi kami bela-belain nonton AAC. Memang sih, sebagian membangkitkan kenangan-kenangan suami saya. Seperti ; ketika antara penghuni flat lantai atas dan bawah, membutuhkan sesuatu, maka 'timba' yang bertindak. Masing-masing saling mengerek keranjang, seperti hendak menimba air dari sumur dan di dalam keranjang diletakkan segala sesuatu yang diperlukan.
Ada juga 'ashir mango, flat yang kumuh dan kotor, suasana Khon Kholili, pasar yang menjual aneka rupa barang dari souvenir hingga tho'am khas Mesir, banyak coretan tulisan Arab, tembok-tembok tidak terawat... dan, memang begitulah adanya di Mesir sana.
Adapun sungai Nil, Pyramid, Masjid Sholahuddin Al 'Ayyubi, memang kentara sekali palsu. Tapi tidak mengurangi rasa ke -Mesir- an nya.
Saya yakin, seandainya pengambilan gambar AAC benar-benar di lakukan di Mesir, bisa jadi film ini 'lebih meledak' dari sekarang. Saya sempat membaca blog nya mas Hanung Bramantyo tentang dibalik layar pembuatan film AAC. Banyak sekali kendala-kendala yang ditemui. Terutama di Mesir. Biaya produksi jadi sangat mahal, karena harus kerjasama dengan PH Mesir. Harga yang ditawarkan sangat-sangat tidak realistis. Saya nggak heran sih, pancene wong Mesir nek karo duit, motone ijo.
Saya juga bisa membayangkan, bagaimana pihak produser pada awalnya meragukan kesuksesan film ini. Karena, biasanya film yang adopted dari novel, hasilnya tidak bisa sama persis. Apalagi yang berbau agama.
Film AAC baru diputar beberapa hari dan langsung jadi fenomena. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari film AAC. Semoga para penonton film dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut, bukan hanya penasaran saja. Harapan saya, ke depannya akan semakin banyak film-film yang mengandung nilai positif.

29 Februari 2008

Insomnia (monolog antara saya dan khayalan...)

Beberapa hari belakangan, saya sulit tidur. Rasanya mata ini sulit sekali diajak kompromi untuk sesegera mungkin terpejam. Tubuh saya juga seolah-olah udah kompakan sama mata untuk tidak segera melakukan istirahat.
tuuut... tuuut...
"temenin aku, lagi gak bisa tidur"
"ada apalagi?"
"entahlah... too many problems on my mind"
"kebiasaan!!!... jangan terlalu dipikirin apa yang sudah terjadi hari ini. karena kemarin adalah pengalaman, hari ini adalah kenyataan dan esok adalah mimpi dan harapan"
"mimpi?"
"segala sesuatu apabila dimulai dengan mimpi, hasilnya akan menjadi suatu kenyataan yang indah. karena dengan hadirnya mimpi, seseorang pasti akan berusaha menggapainya sebaik mungkin"
"ah, narsis... setiap orang pasti punya mimpi. trus, kalo seandainya mimpi itu tidak menjadi kenyataan, pasti kekecewaan yang akan di dapat"
"hey, ingatkah tentang tahapan-tahapan meraih sukses? ; berusaha, optimis, yakin, berdo'a, tawakkal dan takdir"
"takdir itu punya Tuhan, jangan suka dibawa-bawa"
"the best decision maker is HIM"
"kalo patokannya takdir, ngapain juga berusaha?"
"apa kamu bisa liat orang-orang yang hanya bergantung pada takdir?. tujuan hidupnya malah nggak jelas, nggak tau mau kemana dan mau diapakan hidup ini"
"aku masih nggak bisa tidur... bantu aku..."
"coba pikirkan hal-hal positif tentang hari ini. apa saja yang sudah dikerjakan dan bermanfaat untuk orang lain, kepada siapa saja kamu sudah berbuat baik, untuk apa kamu mengerjakan semua ini, bla bla bla..."
"itu malah menjadikan aku sombong, dan rasanya aku tidak pernah merasa berbuat baik kepada orang"
"yang bisa melihat kebaikan diri kita dan yang bisa menilai kita adalah orang lain"
"harus selalu menjaga agar perbuatan kita selalu dianggap baik?. capppeee deeeh..."
"hidup ini mudah"
"siapa bilang sulit"
"tergantung dari persepsi masing-masing. kalo menganggap sulit, yaaa akan selamanya dalam kesulitan. nikmati sajalaaah..."
tuuut... tuuut...
"halo?... halo?..."
nomer yang anda tuju, sedang istirahat..........

27 Februari 2008

Ayat-Ayat Cinta the movie

Semalam saya nonton Ayat-Ayat Cinta the movie d XXI Senayan City. Hmmm... kesimpulan saya, kalo memang penasaran, ya silakan nonton. Tapi kalo udah puas baca novelnya, nikmati saja deh, jangan dipaksain nonton filmnya.
Bagi yang sudah pernah ‘bersentuhan’ dengan Mesir, baik culture, people dan kehidupan sosial sehari-hari, film tersebut ‘kurang nendang’. Tapi, bagi yang belum pernah ‘kenalan’ dengan Mesir, ya cukup ‘nancap’ di hati. Bagi saya yang sudah sangat akrab dengan Mesir (dengan segala kelebihan dan kekurangannya), ‘ke-kurang nendang-an’ nya terlihat pada beberapa lokasi/tempat yang tampaknya (memang) ‘palsu’ ; seperti sungai Nil dan Wisma Nusantara. Adapun sokhro’/padang pasir, itu asli walaupun saya tau itu bukan Egyptian desert.
Para pemain, bolehlah diacungin jempol. Maksudnya, kualitas dan totalitas aktingnya, sangat-sangat bagus. Karena memang mereka yang dipilih adalah artis2 yang qualified. Hanya saja pengkarakteran tokohnya, dengan segala pertimbangan sutradara dan produser, masih banyak yang tidak sesuai dengan karakter di novel.
Kemudian, banyak karakter-karakter yang dihilangkan, seperti ayah dan adik Maria. Padahal mereka berdua cukup berperan dalam penuntasan masalah yang dihadapi oleh Fahri.
Film ini 70% yang diangkat adalah kisah percintaannya. Sedangkan dalam novel, kisah percintaan itu hanya pelengkap saja, yang jadi red line nya adalah perjuangan Fahri dalam mengarungi hidup sebagai mahasiswa Indonesia pas-pasan yang hidup di negeri orang dengan segala lika likunya agar tetap survive baik dalam study maupun kehidupan sehari-hari.
Trus lagi yang bikin janggal, kenapa kok dialognya berbahasa Indonesia?. Sedangkan para pemainnya ber tampang Arab dan settingan lokasinya juga dengan segala daya dan upaya di usahakan seperti aslinya sono (Mesir). Dalam novel, dialog dengan orang Mesir di bahasa Indonesia-kan oleh sang penulis sehingga pembaca merasa puas.
Well, apapun itu, saya sangat menghargai karya sang sutradara, Mas Hanung Bramantyo. Dengan segala usaha dan do’a telah berhasil mewujudkan apa yang telah dicita-citakan selama ini, yaitu menyutradarai film bernuansa Islam...

20 Februari 2008

Warisan nenek

Pernahkah kita perhatikan, semakin sibuk kehidupan yang kita jalani, semakin kosong rasanya hati???...
Suatu pagi pada hari Senin, saya memandangi agenda kerja. Banyak sekali acara rapat, deadline dan project-project yang semuanya itu seolah-olah berbalik menatap saya, memenuhi indera dan menuntut perhatian saya. Dan untuk kesekian kalinya saya berfikir, apa arti semua ini sebenarnya?.
Orang zaman sekarang, kadang sulit untuk memilah waktu, bagaimana supaya selalu bermanfaat, baik buat dirinya maupun orang lain. Saya bekerja, niatnya Fastabiqul Khoirot saja. Alhamdulillah, saya diberi nikmat rizki yang cukup oleh Allah.
Akhir-akhir ini, saya lagi 'kelingan' sama Nenek saya, ibu dari ibu saya, dan saya memanggilnya dengan sebutan 'Emak'. Alhamdulillah, saya sempat beberapa saat 'menangi' Emak. Saya masih kecil saat itu, belum dewasa dan belum banyak mengerti apa itu hidup. Semua nasehat Emak pada waktu itu, jarang saya hiraukan, apalagi masukin hati.
Emak saya hanyalah lulusan SR (sekolah rakyat zaman Belanda dulu). Tapi dia punya banyak sekali kebijaksanaan yang sederhana. Sepanjang hidupnya, dia selalu membangkitkan semangat orang-orang, baik keluarganya maupun teman-temannya.
Emak memang tidak intelek, tapi di mata saya yang pada saat itu masih seorang anak kecil, dia seperti perwujudan Ibu Peri. Seolah setiap kegiatan bersamanya, menjadi suatu peristiwa penting yang patut dirayakan. Saat mengenang semua itu, saya sadari bahwa masa itu adalah masa yang berbeda. Saat itu, canda ria, suka duka, sedih gembira, memainkan peranan penting.
Saat-saat makan merupakan hal yang penting bagi Emak. Hidangan untuk sarapan, mesti selalu panas dan mesti dilakukan sambil duduk bersama-sama di meja makan oval kesayangan Emak. Sepanjang hidupnya, Emak selalu memenuhi kebutuhan keluarganya sampai hal yang paling mendasar.
Suatu hari, saat saya mampir di sebuah restoran untuk membeli makanan, kenangan saya kembali melayang ke rumah Emak. Di ruang makan, terdapat meja tua dari kayu jati. Diatas meja, terhampar selembar taplak meja sederhana yang sudah lusuh dan banyak noda bekas makanan sebelumnya. Tidak jauh dari meja itu, terdapat tungku yang diatasnya selalu tersedia panci sup dan beberapa wadah berisi makanan. Kemudian saya berfikir, umur saya sudah lebih dari 30 tahun, tapi belum pernah membuat makanan selezat masakan Emak.
Ketika saya mudik, saya sempatkan untuk mengunjungi rumah Emak. Saya memeriksa gudang dan mencari kotak yang sudah lama tersimpan di situ. Tidak sulit mencari benda tersebut. Lakban perekatnya yang sudah tua sangat mudah di lepaskan. Saat membukanya, saya temukan sebuah piring kristal antik dan mangkuk keramik kuno berikut tutupnya yang masing-masing di bungkus dengan kertas koran. Dengan hati-hati saya buka mangkuk tersebut, dan saya temukan sepucuk surat yang sudah sangat lusuh.
Perlahan saya baca surat yang sepertinya ditulis oleh tangan Emak sendiri ;
Cucuku sayang...
Aku tau, kau akan menemukan surat ini suatu hari nanti, bertahun-tahun dari sekarang. Saat engkau membacanya, ingatlah bahwa aku sangat menyayangimu. Sebab pada saat itu, aku sudah berada di tengah malaikat, dan aku tidak akan bisa menyampaikan rasa sayangku lagi padamu secara langsung.
Sejak dulu, kau selalu keras kepala, begitu gesit dan selalu tergesa-gesa ingin cepat dewasa. Sering aku berharap bisa menahanmu sebagai bayi selamanya. Kalau kau sudah berhenti berlari, kalau sudah waktunya bagimu untuk memelankan langkah, kuminta kau selalu menyebutku dalam doamu, belajarlah untuk memasak dan menjadikan rumahmu tempat yang nyaman untuk tinggal.
Berikut ini, aku lampirkan resep sup favoritmu, yang biasa kubuatkan untukmu ketika kau masih kecil.
Ingatlah, aku sayang padamu dan kasih sayangku selalu abadi selamanya.
Saya duduk membaca surat itu berulangkali. Karena saya tidak cukup menghargai Emak saat beliau masih hidup. Malam itu, saya biarkan tas kerja tetap terkunci dan membiarkan segala masalah menanti diluar sana. Harusnya saya merasa telah diberi kenikmatan dengan suatu warisan yang indah, tapi saya belum pernah meneruskan warisan itu......

How art made the world

Riwayat perkembangan teknologi komunikasi antar manusia adalah sama dengan sejarah manusia itu sendiri. Pada masa lampau, manusia lebih banyak menggunakan simbol-simbol visual untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Dari terciptanya sebuah interaksi, manusia dapat menyesuaikan diri dengan manusia lain dan alam sekitarnya, yang nantinya manusia dapat menciptakan dan menggunakan alat (teknologi) yang diperlukan dalam mengatasi lingkungannya.
Teknologi tercipta dan berkembang dikarenakan adanya kebutuhan. Seiring perkembangan zaman, teknologi tidak saja sebagai alat untuk membantu aktivitas kehidupan manusia tetapi lebih dari itu kekuatan teknologi yang digunakan oleh antar manusia dapat mempengaruhi manusia lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu (tujuan politik).
Teknologi,dalam komunikasi politik adalah sebagai sarana atau alat pendukung utama yang digunakan oleh pelaku politik untuk mempengaruhi pihak-pihak lain atau khalayak agar mengikuti suatu tujuan tertentu. Yang akhirnya si pelaku politik dapat mengatur,mempertahankan, memperluas atau juga mengambil alih kekuasaan.
Bentuk teknologi yang digunakan itu sendiri, disesuaikan dengan perkembangannya maing-masing pada masanya. Karena belum ditemukan mesin cetak dan media massa seperti sekarang ini (koran, televisi, radio, internet dll), teknologi komunikasi zaman lampau, lebih menekankan pada teknologi seni visual dalam membentuk atribut jati diri. Bentuk seni visual tersebut adalah patung, relief, grafik, ukiran dan simbol yang dibuat pada dinding bangunan, batu, kayu, pohon dll.
Teknologi seni visual tersebut adalah cara manusia pada waktu itu untuk menyampaikan pesan ke masyarakat agar terpengaruh. Seperti yang dilakukan oleh Raja Persia Darius Agung, dia membuat relief seluruh negaranya (lengkap berisi ciri khas yang dihasilkan negara tersebut) di dinding istana dari pintu masuk menuju ruang pertemuan utama. Dengan harapan, ketika para duta besarnya berkunjung ke istana, mereka akan merasa dihargai atas keberadaaanya di wilayah kerajaan tersebut secara tidak langsung melalui relief-relief. Darius menyampaikan pesan bahwa seluruh negara yang ada di relief ada dibawah kendali kekuasaannya. Darius juga membuat sebuah simbol tentang dirinya, yaitu sebagai pemanah yang mempunyai arti kepemimpinan dan kebijaksanaan. Dua sifat yang dipercaya oleh masyarakat Persia pada waktu itu untuk seorang raja.
Teknologi visual (simbol) yang digunakan Darius adalah cikal bakal alat komunikasi yang nantinya berfungsi untuk menunjukan identitas suatu kelompok atau bangsa (seperti : bendera, lambang negara, lambang organisasi).
Jika Darius Agung menggunakan simbol, maka Alexander The Great mempunyai “breakthrough idea” untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Alexander The Great membuat koin bergambar dirinya agar masyarakat mengetahui sedang ada di negara mana dan tahu siapa pemimpin mereka. Koin (mata uang) merupakan alat komunikasi pemersatu bangsa atau negara yang efektif karena di koin terdapat gambar wajah pemimpin/raja yang mana kekuatan ekpresi dari wajah dapat mempengaruhi orang yang melihatnya secara psikologi (emosi) daripada hanya sebuah simbol. Dan dimasa sekarang banyak negara didunia mempunyai mata uang (koin atau kertas) bergambar pemimpin atau ciri khas negara tersebut.
Teknik pengaruh visual pun mampu memanipulasi masyarakat, misalnya ada seorang pelaku politik, untuk mengambil simpati masyarakatnya, dia mengubah penampilan dirinya (tatanan rambut dan gaya berpakaian) yang dirasa memihak kepada masyarakat. Karena penampilan dapat mewakili karakter dan bisa mempengaruhi bagaimana cara pandang orang terhadap kita. Setelah si pelaku politik mendapatkan simpati dan berada di posisi puncak dengan bantuan media (teknologi), maka akan dengan mudah melakukan sesuatu seperti : menggerakkan massa, menyebarkan propaganda dll. (contoh : Adolf Hitler dan Benito Mussolini). Ini mempunyai arti, bahwa media dapat menjadi senjata yang menjatuhkan suatu pemimpin atau kelompok.
Dimasa sekarang, ada Presiden George W. Bush (Presiden Amerika) yang ketika berkampanye benar-benar bergantung pada kehebatan teknologi. Dia menggunakan seluruh elemen media massa baik cetak maupun penyiaran, untuk menyebarkan isu-isu kampanye kepada masyarakat dari perkotaan sampai ke pelosok. Wajahnya ada di televisi, koran, internet, brosur dan suaranya pun jelas terdengar di radio dan televisi. Segala kegiatan yang menggugah simpati diliput media dan dipublikasikan ke masyarakat. Ini menjadi selling point bagi Bush karena dapat mempengaruhi publik untuk memihaknya dan pada waktu hari pemilihan (the big day/Election Day), masyarakat akan memberikan suaranya kepada Bush. Dan terbukti !.
Apa yang dilakukan para pemimpin zaman lampau dan sekarang sebenarnya tidak jauh berbeda. Yang membedakan hanyalah kemajuan teknologinya (alat/media), bagaimana pesan dapat tersebarkan seluas-luasnya dan sampai kepada masyarakat. Isi dan prinsipnya adalah sama yaitu mempengaruhi publik/khalayak untuk mengikuti suatu tujuan tertentu.