07 Januari 2009

Law of attraction

Setelah "beristirahat" di RSPI selama beberapa hari kemarin, pagi ini setelah shalat subuh saya tidur lagi untuk mengumpulkan energi baru.
Tetapi, tidak lama kemudian saya terjaga, kaget dan refleks untuk segera bersiap-siap, menyapa pagi yang cerah untuk memulai aktifitas hari ini.
Mengingat kondisi yang belum sepenuhnya pulih, saya pun tersadar bahwa masih harus rest beberapa hari untuk mengkondisikan keadaan saya hingga dapat beraktifitas seperti sebelum sakit.
Tetapi, saya tidak bisa. Kebiasaan yang sudah terbentuk, mengalahkan segalanya. Saya sudah sangat ingin "bangkit" dan bergabung bersama teman2 di Pesantren tercinta ini untuk mengerjakan apa saja yang bisa saya kerjakan. Sepertinya, saya akan "tertinggal" apabila tidak mengikuti perkembangan yang sedang terjadi di Pesantren.
Seperti yang sudah-sudah, tidak pernah ada kata "cukup" jika ingin berjuang untuk ummat. Apa saja bisa di kerjakan, baik yang berkaitan dengan fisik maupun pikiran. Dan biasanya orang yang "berjuang" untuk ummat akan merasa enjoy, banyak tantangan yang harus dihadapi, bukan malah dihindari.
Sebenarnya apa yang saya cari?. Seberapa besar sih kebutuhan saya? Atau, begitu menakutkankah masa depan bagi saya sehingga saya harus berlomba-lomba mencapai yang terbaik?
Bukankah sebagai manusia, kita hanya perlu makan tiga kali sehari?. Bukankah Tuhan Maha Adil dan Maha Pemberi Rizki?. Bukankah menyiapkan berbagai kebutuhan di masa depan itu mestilah seperti kita akan hidup selamanya?.
Saya menangkap kesan bahwa saya mulai terjebak pada berbagai tindakan yang "away" ketimbang "toward". Saya seperti masuk ke dalam penjara untuk terus "berlari dari" apa yang saya takutkan, dan bukan "mengejar apa" yang saya cita-citakan. Saya terjebak masuk ke dalam "sirkuit balap" yang tak "bergaris finish".
Ya, yang namanya bekerja keras itu letaknya di antara malas dan ngoyo. Tentang malas, kita sudah mengetahui bahwa Tuhan pun tidak suka pada orang malas. Tentang bekerja keras, di sinilah kita seringkali KEBABLASAN dan seolah merasa bisa "menggeser kursi Tuhan".
Sepanjang yang saya ketahui, esensi dasar dari The Law of Attraction adalah : SABAR, SYUKUR dan IKHLAS. Dan, semua itu berada dalam timeframe yang jelas-jelas bukan milik manusia.
Maka, bekerja malas, jelas bukan pilihan. Akan tetapi, bekerja terlalu keras juga bukan pilihan yang bijaksana. Dengan bekerja terlalu keras, belief system kita akan teracuni oleh pernyataan : "Kalo nggak gini caranya, ya gimana bisa dapat?". Lha...!, tidakkah itu sama saja "mengkudeta" Tuhan dengan memposisikan diri sebagai penentu hasil?.
Bekerjalah dengan keras, dan tetap memberi ruang untuk keyakinan akan Tuhan sebagai Hakim yang tertinggi. Lantas, seberapa keraskah kita harus bekerja?. Silakan ukurlah sendiri dengan parameter ini : -Sabar, Syukur, Ikhlas- di dalam kerangka waktu yang bukan milik kita.
Let It Go, Let It GOD!!!.
(24 Desember 2008)

Dan alergi itu...

Pagi yang cerah, udara Jakarta tersenyum menyapa. Sayangnya, saya hanya mampu menikmati cerahnya pagi ini dari sebuah sudut kamar 3302 RS Pondok Indah Jakarta, dengan jarum infus menempel d tangan kiri yang menghubungkan obat infus 'segede karung' imported dari Negeri Sakura.
Merupakan suatu kebetulan bahwa obat infus saya import dari Jepang, secara saya baru beberapa hari mendarat dari negara tersebut.
Tulisan ini merupakan "curhatan" sehubungan dengan kondisi saya yang kurang bagus akhir-akhir ini. Sekaligus, merupakan klarifikasi bahwa sakit saya semata2 hanyak Takdir Allah yang kebetulan di derita ketika saya sedang bertugas d negara orang (Jepang).
Sebagai manusia, ada perasaan kurang nyaman ketika melakukan hal kurang baik. Menurut saya, sakit yang saya derita ketika mengunjungi negara Jepang, sangatlah mengganggu bagi sebagian pihak, terutama pihak penyelenggara. I apologize to Pak Sano ("sahabat Jepang saya") about this condition that make everybody confuse about myself. Please forgive me.
Seminggu sebelum keberangkatan ke Jepang, saya menderita Flu (batuk dan pilek). Sebenarnya ini merupakan sakit yang sangat biasa yang sering saya derita apalagi mengingat kondisi cuaca d Jakarta pada saat itu memasuki musim pancaroba.
Karena saya mau segera sembuh, saya pun minta kepada dokter pribadi (di suatu RS Internasional d daerah Bintaro), agar memberikan obat yang bagus supaya saya sudah fit sebelum berangkat ke Jepang. Dan beliau pun memberikan saya obat flu (dengan kandungan CTM 2mg), antibiotik (Zistic) dan vit C.
Keesokan harinya, setelah mengkonsumsi obat2an tsb, ketika bangun pagi, saya merasakan mual yang luar biasa, ulu hati seperti ditusuk dan badan gemetar. Saya pun kembali ke RS utk bertemu dokter. Kesimpulan nya, lambung saya tidak kuat menerima antibiotik jenis Zistic yang d gabung dengan Vit C.
Dokter mengganti antibiotik dengan merk Bactrim (dengan kandungan Sulfa) dan obat magh merk Rantin. Tapi, walaupun obat sdh d ganti, saya belum merasa nyaman.
Sampai disini, saya belum sadar sebenarnya Allah berkuasa terhadap setiap makhlukNya. Allah menciptakan manusia agar selalu belajar dan menggali potensi diri supaya dapat mencari dan mendalami ilmu Allah yang sangat luas.
Seharusnya, saya bisa bertanya kepada dokter, apa penyebab saya tidak kuat terhadap obat ini dan itu. Dan mengapa saya harus diberi obat ini dan itu dan apa saja kandungannya, apakah akan menimbulkan reaksi yang sama dengan obat sebelumnya bla bla bla... Saya tidak peduli dengan Kuasa Tuhan.
Ketika briefing d Kedubes Jepang maupun dinner d rmh Bapak Dubes Jepang, saya hanya memandangi lezatnya Tempura dan Sushi yang dihidangkan. Saya sangat ingin menikmatinya, tapi kondisi lambung saya belum memungkinkan utk mencoba makanan lezat tersebut. I love Japanese food.
Dan ketika waktu keberangkatan, sebenarnya dalam diri saya sudah menyebar "racun" yang berbahaya. Yaitu alergi terhadap zat sulfa yang dibawa oleh obat ber merk Bactrim itu.
Ketika d pesawat menuju Narita, badan saya terasa sangat panas dan gatal. AC pesawat tidak berasa sama sekali. Apalagi saat mendarat d Narita, saya sangat2 tdk nyaman. Sekali lagi, BUKAN KARENA JEPANG nya, tapi karena racun d tubuh saya sudah mulai menyebar.
Malam hari ketika hendak makan malam, kondisi saya sudah seperti "tokek kesiangan", badan saya dipenuhi bentol-bentol yang sangat ekstrim. Dan saya pun dilarikan ke RS di kota Tokyo. Dokter setempat menyimpulkan bahwa saya keracunan obat dan mereka segera menyita obat2an saya tersebut. Saya di infus, di suntik, di ambil darah dll. Saya pasrah.... Tapi, dokter tdk bisa menyimpulkan obat apa penyebabnya, mengingat komposisi obat tdk tertera di bungkus nya.
Sehari setelah infus, kondisi saya masih tidak lebih baik. Gatal2 masih terus ada sehingga saya tidak nyaman. Dokter d Tokyo TDK MEMBERI OBAT ORAL sama sekali. Mrka hanya memberi obat oles yang hanya cukup utk 2 hari.
Selama kegiatan d Jepang, setiap malam saya tidak bisa tidur dikarenakan gatal yang menimpa saya tidak kunjung henti. Akhirnya, pada keesokan harinya saya tidak bisa maksimal untuk mengikuti kegiatan karena ngantuk. Saya pun memastikan ke semua orang bahwa ketika saya stay d Inggris dan menghadapi salju, kondisi saya tidak sampai begini. Berarti, saat di Jepang ini, ada satu hal yang tidak beres menimpa saya. Tidak mungkin karena cuaca. Dan makanan pun saya sangat hati2 sekali. Saat itu saya tidak sadar bahwa zat sulfa sudah mendominasi tubuh saya.
Beberapa hari kemudian, sendi-sendi saya tidak bisa digerakkan sehingga saya tampak seperti robot. Jalan tegak lurus. Kondisi saya semakin parah dan diperparah dengan saya tidak bisa menerima makanan apapun. Saya pun ambruk kembali, dan d infus di Nara City Hospital. Kesimpulannya, saya terlalu capai karena tiap malam tdk bisa tidur dan kegiatan sehari2 sangatlah padat.
Apabila kondisi saya lebih buruk dari di Tokyo, dokter menyarankan agar saya secepatnya kembali ke Jakarta. This, Pak Sano sahabat Jepang saya, tampak seperti kebingungan tapi tetap tenang, dan saya merasakan panik yang luar biasa. Sekali lagi, sumimasen Sano san... You are the best deh pokoknya bisa sabar gitu!!!...
Sesampainya di Jakarta, karena kondisi semakin memburuk, termasuk tulang2 saya tidak bisa d gerakkan, akhirnya suami saya memutuskan utk segera menemui Prof. Karnaen, ahli Alergi dan Imunologi d RS Pondok Indah Jakarta. Setelah saya menceritakan kronologinya, sang professor pun menggeleng2kan kepala dan comment : this is unusual case... Sedikit lagi alergi akan menyerang pembuluh darah!!! dan alergi ini disebarluaskan oleh zat sulfa dari obat ber merk Bactrim...
Iiih, wlpn saya gag ngerti apa yang akan terjadi, tapi pernyataan professor tsb membuat bulu kuduk saya merinding...
Akhirnya, kamar 3302 RS Pondok Indah menjadi saksi sekaligus menjadi tujuan akhir kisah petualangan alergi yang saya derita.
Sabar dalam menerima musibah, akan meringankan penderitaan dan bisa menghapus dosa seseorang pada Tuhan...
Kepada sahabat Jepang saya : Pak Atsushi Sano, saya memohon maaf yang sebesar2nya atas kejadian yang menimpa saya sehingga merepotkan banyak pihak terutama pihak Kedubes Jepang d Jakarta dan beberapa pihak di Jepang. Sampaikan permohonan maaf saya atas semua ketidak nyamanan ini. Dan saya berjanji akan berbuat yang terbaik guna berlangsungnya program ini.
(22 November 2008)

Jangan malu bermimpi

Malam ini, seperti malam yang sudah-sudah, saya tidak bisa tidur. 2 tahun belakangan, saya menderita insomnia berat atau dalam Medline Medical Encylopedy ; insomnia is difficulty getting to sleep or staying asleep, or having non-refreshing sleep for at least 1 month without any known physical or mental condition.
Seorang sahabat pernah nasehati, seandainya bukan diri sendiri, lalu siapa yang bisa mengobati?. Karena hal tersebut merupakan salah satu dari akibat tekanan psikis dan mental dari dalam diri. Hehehe...
Menurut analisa saya, 2 tahun belakangan ini memang saya punya 'kerjaan' yang cukup menyita pikiran, bukan fisik. Apalagi didukung oleh karakter yang perfeksionis. Ketika konsultasi ke dokter, dia bilang : "Kalau seandainya kerjaan gag selesai, apa anda akan langsung dipecat?"... hehehe. "Manajemen pikiran anda yang kurang bagus. Harusnya anda bisa memilah kapan saatnya kerja dan saatnya istirahat".
Saya suka bermimpi!... Bagi saya, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia!. Berlarilah, tanpa lelah hingga dapat meraihnya... Wuaaah, terlalu muluk ya!...
Sebelum tidur, saya membiasakan diri membuat dream book. Saya menulis dan menvisualisasikan impian-impian hidup saya ke dalam sebuah "e-diary". Bukan hanya menuliskan saja, tapi tak jarang saya juga menceritakan impian-impian kepada sahabat-sahabat dekat.
Bagi saya, ini adalah cara efektif untuk membuat saya terus termotivasi dan selalu teringat dengan impian hidup yang ingin saya capai. Dalam kurun waktu tertentu, apa yang saya tulis dalam "e- diary" hampir sebagian besar sudah tercapai.
Dalam sebuah perbincangan, saya memberi kesempatan kepada beberapa teman untuk menceritakan impian hidupnya, banyak diantara mereka yang tidak berani melakukannya. Alasanya sederhana, MALU kalau dikira bermimpi besar. MALU kalau nanti tidak tercapai...
Belajar dari Nabi Yusuf AS, salah satu terwujudnya impian Yusuf adalah karena ia berani menceritakan impiannya kepada ayah dan saudaranya-saudaranya ; ".............. wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku". (QS. 12 ayat ke-4)
Seandainya ia meredam impiannya tersebut rapat-rapat, barangkali ceritanya akan berbeda. Sebab kita tahu, bahwa puncak kebencian saudara- saudaranya terjadi saat Yusuf menceritakan impiannya. Cerita terus bergulir hingga Yusuf berhasil mewujudkan impianya.
Ya, sebaiknya kita berani untuk bermimpi, sekaligus berani menceritakan impian tersebut kepada orang lain, khususnya orang-orang yang dekat dengan hidup kita. Seperti halnya suatu bisnis, perlu dikomunikasikan agar orang lain bisa bekerja sama dengan kita.
Demikian juga impian perlu dikomunikasikan untuk membuka jalan kita meraih impian tersebut. Orang-orang yang ada disekeliling kita akan menjadi "reminder" yang sangat bagus dan efektif untuk impian-impian hidup kita.
Ternyata, insomnia saya ada manfaatnya ; membuat saya semakin lama bisa "merajut" MIMPI...
So, jangan pernah malu bermimpi dan menceritakannya kepada orang lain.

Cukup satu langkah

Setelah seminggu 'berlibur' dari rutinitas, saat ini saya on the way to the 'real life'. Walaupun sepertinya belum ikhlas hati ini, tapi ya harus dipaksakan, secara memang saya di takdirkan untuk hidup di Jakarta.
Sebagai Ibu Kota negara, Jakarta menyimpan banyak 'harapan, janji serta mimpi' yang sepertinya bisa dengan mudah setiap orang dapat meraihnya. Sebagai penduduk Jakarta yang 'baru' mendiami selama hampir 20 tahun, saya melihat banyak yang 'tidak kuat' untuk bergumul dengan kondisi metropolitan.
Kerasnya kehidupan metropolis, kadang membuat setiap orang merasa frustasi karena tidak mampu menahan dan menyesuaikan diri dengan keadaan.
Frustasi?. Mungkin itu karena kita ingin mengambil langkah yang terlalu besar, langkah raksasa. Idealnya, langkah raksasa adalah memang yang terbaik, bisa dengan cepat membawa perubahan besar dalam hidup. Tapi perlu diingat, ideal bukanlah kehidupan nyata. Nobody's perfect. Semua jauh dari kesempurnaan, sehebat apapun kita sebagai manusia.
Dikarenakan "kesempurnaan" Jakarta, sehingga setiap orang bernafsu untuk "meraup" segalanya tanpa mempertimbangkan kemampuan diri. Padahal, apabila setiap orang sadar akan self capacity, mungkin apa yang diinginkannya akan tercapai. Mulailah cukup dengan satu langkah kecil saja.
Begitupun dalam menghadapi setiap permasalahan. Belum apa-apa, orang sudah panik, apakah nantinya bisa terselesaikan?. Harusnya, jangan terburu-buru ribut 'mencari hasil' tapi lebih baik 'menemukan proses'. Jadi, kenapa masih saja berkeras mengambil langkah yang terlalu besar?.
Langkah raksasa akan membuat masalah jadi terlihat besar sekali, kompleks dan tak terselesaikan. Akibatnya, kita hanya termenung dan tidak bergerak.
Hasilnya?. NOL besar!. Sabar sebentar. Cermati langkah sekali lagi. Bukankah lebih baik jika mengambil langkah-langkah kecil terus menerus daripada berusaha menelan semua masalah sekaligus?.
Cukup satu langkah kecil, diikuti langkah-langkah kecil lainnya. Terus bergerak maju biarpun lambat. Jauh lebih baik jika kita terus bergerak maju, sekalipun pelan, daripada diam, tidak bergerak sama sekali.So, bila kita tidak mampu berdamai dengan masalah, tidak mungkin mampu bersemangat dalam upaya yg lebih berani mencapai masa depan yg cemerlang.
Tetap Semangat!!

Janji-MU

Sejak seminggu lalu saya meninggalkan Metropolitan, menemani 'lelaki kecil' saya ber Idul Qurban di Gontor. Alhamdulillah, dia tampak semakin dewasa dan 'beda', membuat saya semakin yakin bahwa kedewasaan tumbuh dari 'how to learn', not 'how to feel'...
Mungkin karena jenuh dengan kehidupan kota besar, saya sangat menikmati hari-hari di desa nun jauh dari keriuhan kota. Dan yang paling saya rindukan di Gontor ini adalah, dapat bertemu dengan para 'orang berilmu' yang nasehatnya dapat 'menampar' saya hingga tersadar bahwa sebenarnya I am NOTHING...
Suatu sore, di tengah rintik gerimis yang menyapa bumi, di teras rumah di pojok desa, saya mendapat 'belaian' dari seorang kiai kharismatik. Tentang sebuah makna dari ayat INNA MA'A AL 'USRI YUSROO. Ternyata, selama ini persepsi saya salah yang memaknai kata "MA'A" dengan arti "SETELAH". Dan bahwa ternyata yang benar adalah "DENGAN atau BERSAMA". Iiih merinding saya!. Itu berarti Allah TELAH menjanjikan bahwa BERSAMA/DENGAN KESULITAN, ADA KEMUDAHAN.
Jadi?, mengapa dalam hidup ini kita harus cemas?, harus takut?. Lha wong janji Allah sudah JELAS dan PASTI ditepati. Mengapa kita harus cemas ketika tertimpa masalah?, mengapa kita mesti takut menghadapi hidup?, mengapa kita bersedih ketika tertimpa musibah?. Seolah-olah DIA tidak ada di dekat kita, sepertinya nafas NYA tidak hadir di nafas kita...
Memang, saya ini masih BELUM terlalu KUAT menerima&menghadapi ujian NYA. Saya hanyalah seorang yang sangat biasa, yang masih sering mengeluh, tidak pandai bersyukur dan selalu merasa kurang. Padahal, bila orang merasa kecil dan gagal mencari kebahagiaan, itu bukan karena ia tidak menemukannya, tetapi karena tidak berhenti sejenak untuk menikmati yg telah ia miliki. Dan juga, ketidakpuasan dengan keadaan sekarang adalah kekuatan untuk mengupayakan perubahan. Harusnya saya jangan cuma mengeluh, tetapi segera melakukan sesuatu yg menyelesaikan ketidakpuasan.
Hidup ini tidak ringan, tetapi cara pandang kita dalam memaknai hidup, itu yang menyebabkan kita bisa memilah dan menghargai kehidupan sehingga membuat hidup menjadi indah. Dan ketika kita merasakan bahwa hidup ini berat, jangan berdo'a agar hidup ini menjadi ringan, tapi berdo'alah agar menjadi orang yang tahan banting.
"Innallaha khalaqa wa qaddaraa", sungguh Allah telah mencipta dan telah mengukur kemampuannya (seseorang). Tidak mungkin akan membentangkan barisan permasalahan di depan hambaNYA kecuali dia (orang itu) mampu menyelesaikannya. Nabi Sulaiman AS dianugerahi kemampuan untuk memahami bahasa hewan, Dia malah berkata : liyabluwani a asykuru am akfuru ; itu adalah utk mengujiku apakah aku berlaku syukur atau berlaku kufur... LAA YUKALLIFULLAHU NAFSAN ILLA WUS'AHA.
Saya sangat menikmati ritme kehidupan, dan selalu berusaha untuk menggali nilai-nilai yang 'tersembunyi' dalam setiap keadaan yang terjadi. Itu semua membuat hati&pikiran jadi tersadar bahwa sebenarnya banyak arti hidup yang belum saya ketahui. Yaa Robb, kuatkan hati ini untuk selalu yakin bahwa janjiMU adalah BENAR.
(11 Desember 2008)