27 September 2007

Nasib kita, siapa yang menentukan?

Kita sering mendengar ungkapan, "lha memang sudah nasibnya begini, mau diapain lagi"... Biasanya ungkapan tersebut lebih banyak ditujukan kepada sebuah kekecewaan atau untuk hal yang kurang beruntung, namun tidak jarang pula kita mendengar, "emang nasibnya bagus...".
Apakah memang benar nasib kita adalah kehendak Tuhan?
Yang menentukan nasib kita adalah diri kita sendiri. Ketika saya mendengar kawan saya bilang, "kasihan sekali nasib anak-anak itu mesti ngamen di jalanan". Saya tanya, "apanya yang kasihan?". Kawan saya menjawab, "anak-anak itu seharusnya sekolah, bukan ngamen".
Lha, memang seharusnya anak-anak itu di sekolah, bukan ngamen di jalan. Atas kehendak siapa mereka ngamen di jalan?. Orang tua mereka-kah yang tidak mampu untuk mengirim mereka ke sekolah?, keinginan anak-anak itu sendiri-kah yang ingin mempunyai uang dengan cara ngamen untuk membantu keluarga?, atau Tuhan yang menjadikan mereka pengamen?.
Dalam hidup, kadang kita menghadapi suatu dilema. Kita dituntut untuk membuat suatu keputusan yang sangat sulit sekali. Tidak jarang membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Kadang keputusan yang kita ambil, berakibat kurang baik yang akhirnya kita putus asa dan mempunyai tendensi untuk menyerah dan berkata, "ini memang sudah nasibku"...
Jelas sekali, keputusan yang dibuat adalah keputusan kita sendiri, bukan keputusan Tuhan. Jadi, nasib kurang baik yang menimpa kita, karena keputusan tersebut adalah hasil pemikiran kita sendiri. Jadi, teori yang menentukan nasib kita adalah diri kita sendiri, bukan Tuhan, adalah BENAR.
Bagaimana caranya kita mengambil keputusan yang terbaik untuk diri kita sendiri?.
Sebelum kita menyerah dan berkata bahwa ini adalah nasib kita, sebaiknya kita bertanya apakah kita sudah berusaha mencoba setiap cara untuk menjadikan nasib kita lebih baik?. Tuhan tidak menciptakan kita menjadi pengamen, pengemis atau seorang presiden. Semua itu adalah usaha kita untuk meraih keberhasilan tersebut. Jika usaha kita hanya menyesali hidup atau menyesali nasib, tentu saja kita tidak akan pernah berhasil meraih kesuksesan.
Sebagai manusia, kita semua pasti pernah mengalami kegagalan, membuat suatu keputusan yang kurang baik dan membuat kesalahan. Semua itu adalah bagian dari kesuksesan kita. Karena, jika kita tidak pernah mengalami kegagalan, maka kita tidak akan pernah mengetahui mana yang benar atau salah.
Salah satu kunci kesuksesan adalah belajar dari kegagalan dan kesalahan kita, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kegagalan, kesuksesan dan kesulitan hidup, yang menentukan adalah diri kita sendiri. Diri kita adalah kunci dari misteri kehidupan kita sendiri, setiap jawaban dari pertanyaan tentang hidup, ada dalam diri kita sendiri. Tuhan menyediakan apa yang kita perlukan, namun diri kitalah yang menentukan langkah apa yang harus diambil, arah mana yang harus dituju, serta tindakan apa yang harus dilakukan.
Laa Yukallifullaahu Nafsan Illa Wus'ahaa... Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah. Amien.