09 Juni 2008

Adilkah ini cinta ?

Saya sedang senewen, mendapat kabar dari sekolah anak saya yang 'nun jauh disana', bahwa nilai rata-ratanya turun. Dan saya juga sedih ketika mendengar bahwa sakit yang diderita anak saya tak kunjung sembuh.
Sebagai seorang ibu, naluri saya langsung bereaksi, walaupun sedikit banyak diwarnai oleh emosi. Saya langsung protes kepada suami, agar anak kami untuk sementara dipulangkan saja dan jangan dipaksa meneruskan sekolahnya yang 'nun jauh disana', sampai dia benar-benar siap. Saya pun menghubungi anak saya, dengan nada kecewa, saya menyampaikan bahwa kalau tidak ada kemajuan dalam 3 bulan kedepan, lebih baik pulang saja. Jangan dipaksakan, toh menuntut ilmu bisa dimana saja dan kapan saja, "utlubil 'ilma minal mahdi ilallahdi".
Ternyata, baik suami maupun anak saya bereaksi negatif terhadap pernyataan saya tadi. Anak saya bilang ke papanya : "mama kok gitu sih, nggak mendukung mas, padahal mas kan pengen kayak papa dan ada temen mas yang lebih parah tapi mamanya nggak nyuruh pulang". Suami saya pun tak kalah keras, dia malah menuduh bahwa saya "menggembosi" dan bukannya malah mendukung. Astaghfirullah...
Saya langsung protes atas tuduhan-tuduhan itu. Demi Allah, tidak ada sedikitpun maksud saya untuk melakukan aksi "boikot" atas pilihan anak saya untuk studi. Bagaimanapun, yang namanya orang tua, ingin agar anak-anaknya menjadi lebih baik dari orang tuanya.
Sebagai seorang ibu, dimanapun berada, pasti mempunyai perasaan yang sangat peka terhadap kejadian apapun yang menimpa anak-anak. Begitupun saya, ketika mendapat laporan yang kurang baik tentang anak-anak, naluri keibuan akan secara refleks tersirat dalam benak pikiran. Saya pikir, sangat wajar apabila saya sampai mengungkapkan protes tentang ketidaknyamanan anak saya tersebut. Ini dilakukan karena saya sayang dan cinta sama anak saya. Tapi, kenapa mereka (anak saya dan papanya) tidak memahami rasa cinta yang saya miliki?. Haruskah mereka memaksakan bahwa hanya cinta mereka saja yang bisa dirasakan?.
Adilkah ini cinta?.....
Harusnya mereka bisa memahami perasaan saya sebagai seorang ibu. Karena hanya CINTA dan DO'A yang saya punya untuk kebaikan semua orang yang saya cintai dan sayangi. Tapi, apakah mereka (orang-orang yang saya cintai dan sayangi) merasakan akan hadirnya cinta tersebut?.
Adilkah ini cinta?.....